01

Rabu, 29 Mei 2013

ULAMA BESAR INDONESIA DARI TANAH DAYAK

Kyai Haji Hasan Basri 
ULAMA BESAR INDONESIA DARI TANAH DAYAK

-----------------------------------------------------------------

Di lahir di Muara Teweh, Barito Utara, Kalimantan Tengah, 10 Agustus 1920 – meninggal 8 November 1998 pada umur 78 tahun) adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 1984-1990. Ia adalah seorang da’i dan pernah menjabat Imam Masjid al-Azhar, Jakarta.

Berasal dari Suku Dayak Ngaju-Bakumpai,uluh Bakumpai Sejak kecil, Hasan Basri sudah gemar belajar membaca Alquran, serta mempraktekkan ajaran dan ibadah Islam. Kendati ayahnya, Muhammad Darun, sudah meninggal dunia saat Hasan Basri berusia tiga tahun. Sang ibu, Siti Fatmah membesarkannya bersama dua saudaranya. Dia putra kedua dari tiga bersaudara.

Pagi hingga siang, Hasan kecil belajar di Sekolah Rakyat. Sore belajar di sekolah Diniyah Awaliyah Islamiyah (DAI). Di sekolah DAI, dia belajar membaca Alquran, menulis dan membaca tulisan Arab, serta mempraktekkan ajaran dan ibadah Islam. Dia murid cerdas, selalu menjadi yang terbaik. Sehingga dia sangat disayang oleh gurunya yang memiliki nama sama dengan kakeknya, Haji Abdullah. Maka, tatkala dia duduk di kelas tiga, gurunya mempercayainya mengajar di kelas satu dan dua.

Lulus dari Sekolah Rakyat, Hasan Basri meninggalkan desa kelahirannya untuk melanjutkan sekolah di Banjarmasin. Ia melanjut ke Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah di Banjarmasin (1935-1938). Saat Buya Hamka berkunjung ke Banjarmasin. Dia sangat mengagumi ulama Muhammadiyah itu, apalagi setelah melihatnya berceramah. Sejak itu, Hasan bercita-cita menjadi ulama seperti Buya Hamka.

Setamat MTs, dia melanjut ke Sekolah Zu'ama Muhammadiyah di Yogyakarta (1938-1941). Dia menyelesaikan pendidikannya dengan baik. Sesudah tamat, ia pun menikah di usia 21 tahun dengan Nurhani.
Kendati masih terbilang masih sangat muda, dia bersama sang istri, sudah berpikir lebih dewasa dari usianya. Pasangan suami-isteri muda ini mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah di Marabahan, Kalimantan Selatan. Mereka berdualah yang menjadi gurunya. Namun, 1944 madrasah itu ditutup karena situasi perang. Dia sempat mendirikan Persatuan Guru Agama Islam di Kalimantan Selatan.

Selain itu, Hasan Basri juga sering pidato dan khutbah di masjid, serta ceramah di majlis taklim. Hal ini membuatnya sangat dikenal luas di lingkungan masyarakatnya. Hal ini pula yang mendorong Hasan Basri terjun ke gelanggang organisasi dan pergerakan politik. Ia pun aktif dalam partai Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia) yang diikrarkan sebagai satu-satunya partai politik Islam, kala itu. Hasan Basri dan keluarga hijrah ke Jakarta, saat Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) terbentuk, dan dia terpilih menjadi anggota DPR mewakili provinsinya.

Namun, tahun 1960 partai Masyumi dibubarkan pemerintah. Maka, dia sebagai anggota Pimpinan Pusat Partai Masyumi tidak dapat lagi bergerak dalam politik. Gerak politik ulama dan pemimpin Islam dipersempit, terutama setelah DPR-RI hasil pemilu yang pertama tahun 1955 dibubarkan dengan Dekrit Presiden Sukarno.

Sebagai ulama dan zu'ama (pemimpin Islam), dia merasa tidak ada lagi organisasi politik yang cocok menyalurkan pemikiran dan pandangan politik yang diyakininya. Maka, ia memutuskan untuk menekuni pelayanan dakwah. Langsung terjun ke tengah-tengah masyarakat, mengawal moral dan akidah umat. Dia pun akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama, sampai dia meninggal dunia dan digantikan Prof KH Ali Yafie.

Saat beliau menjabat Ketua Umum MUI, pemerintah melalui Menteri Keuangan mengeluarkan Pakto (Paket Oktober) 1988, yang mendorong berdirinya bank. Banyak umat Islam yang bertanya kepadanya mengenai bunga bank yang oleh sebagian kalangan dianggap haram. Selaku ketua umum MUI, dia mendengar keluhan umat Islam tersebut. Ia merespon dengan menggelar seminar “Bank Tanpa Bunga” di Hotel Safari Cisarua Agustus 1991 dihadiri para pakar ekonomi, pejabat Bank Indonesia, menteri terkait, serta para ulama. Waktu itu ada tiga pendapat; ada yang menyebutkan bunga bank haram, bunga bank halal dan ada juga yang berpendapat bunga bank syubhat. Lalu, seminar itu merekomendasikan agar KH Hasan Basri, selaku Ketua Umum MUI membawakan masalah itu ke Munas MUI yang diadakan akhir Agustus 1991. Munas MUI itu memutuskan agar MUI mengambil prakarsa mendirikan bank tanpa bunga. Untuk itu, dibentuk kelompok kerja yang diketuai oleh Sekjen MUI waktu itu HS Prodjokusumo. Dilakukan lobi melalui BJ Habibie sampai akhirnya Presiden Soeharto menyetujui didirikannya Bank Muamalat Indonesia (BMI)

OEVAANG OERAY

Johanes Chrisostomus Oevaang Oeray
Lahir di Kedamin, Kapuas Hulu, 18 Agustus 1922 – meninggal di Pontianak, 17 Juli 1986 pada umur 63 tahun) adalahGubernur Kalimantan Barat yang menjabat pada periode 1960-1966 dan merupakan Gubernur Kalbar pertama dari kalangan Suku Dayak .
Oevaang Oeray juga merupakan salah satu pendiri Partai Persatuan Dayak yang pernah mengikuti Pemilu pertama di Indonesia tahun 1955 dan 1958.[5][6]
Dia juga menekankan kedaulatan setiap agama yang dijamin oleh kebebasan beragama sebagai salah satu hak yang paling mendasar, dan menolak pula kontrol atas praktik keagamaan oleh negara dalam bentuk apapun.[7]
Johanes Chrisostomus Oevaang Oeray lahir di Kedamin, Kapuas Hulu pada tanggal18 Agustus 1922. Ayah dan ibunya bernama Ledjo dan Hurei yang beragama Khatolik. Kedua orangtuanya berasal dari suku Dayak yang bekerja sebagai penorehkaret dan petani ladang berpindah.[8] Ia merupakan anak keempat dari empat bersaudara. Saudaranya yang lain adalah Ding Oeray, Mering Oeray dan Tepo Oeray.[8]
Pertama-tama sekali ia bekerja adalah menjadi seorang guru. Dan kemudian, pada tahun 1941 para guru sekolah Katolik se-Kalimantan Barat berkumpul di Sanggau mengadakan retret (rekoleksi) tahunan. Saat retret berlangsung, seorang murid seminari di Nyarumkop, Oevaang Oeray, menulis surat terbuka kepada para peserta rekoleksi.[9]
Isinya mengajak para guru memikirkan perbaikan nasib masyarakat Dayak yang terus dalam kondisi memprihatinkan. Di antara pemikiran diajukan, antara lain agar perbaikan nasib orang Dayak dilakukan melalui perjuangan organisasi politik.[9]
PARTAI PERSATUAN DAYAK
Gagasan yang dikemukakan Oevaang Oeray ini mampu memberikan inspirasi para peserta, pada penutupan rekoleksi yang dipimpin AF Korak, JR Gielling Laut, dan M Th Djaman, melahirkan kebulatan tekad membentuk organisasi yang berfungsi memperjuangkan nasib Dayak di forum politik.[9]nilah embrio Partai Persatuan Dayak, didahului pembentukan Dayak In Action (DIA) dengan ketuanya adalah FC Palaoensoekadan pastor Adikarjana.[10] Kemudian, pusat partai ini dipindahkan ke Pontianak dan diubah namanya menjadi PPD pada 1 November 1945[10] dan menjadi suatu wadah kebangkitan Dayak pada 3 November 1945, sekitar 74 hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. DIA tak terpisahkan dari pernyataan kebulatan tekad yang tercetus di Sanggau pada 1941. karena itu maka merupakan tonggak sejarah perjuangan dan kebangkitan Dayak.[9]
Sewaktu Sultan Hamid II membuat DIKB (Daerah Istimewa Kalimantan Barat), pejuang Kalbar yang sifatnya unitarianisme menganggap bahwasanya PPD dibuat untuk keuntungan NICA agar dapat menguasai Kalbar lagi.
Kemudian pada 22 Juni 1959, Oeray dilantik menjadi Kepala Daerah Swatantra Tk. 1 oleh Sekretaris Jenderal Dalam Negeri dan Otonomi Daerah R.M. Soeparto menggantikan Mendagri.

Awal pemerintahan 

Pada sidang DPRD Tk I Kalbar, Oevang Oeray berhasil terpilih sebagai Gubernur KDH Tk.I Kalbar yang disahkan oleh Keppres No.465/1959, tanggal 24 Desember 1959 untuk periode 1 Januari 1960-12 Juli 1966.[10] Pelantikannya berlangsung pada 30 Januari1960 oleh Mendagri, pada saat itu Mendagri digantikan oleh Roehadi Wihardja.[1]

Masa pemerintahan Oevaang pernah mengalami kejadian yang tidak terlalu bagus. Sebagai contoh kesuksesan Partai Persatuan Dayak dalam mengikuti pemilu 1955, dengan 146.054 suara[10] dan 1958 mengundang reaksi. Contohnya:
  • Orang-orang Melayu menuduh Oevaang Oeray melakukan praktik pilih kasih dalam pengangkatan pegawai.[6][11] Ini dikarenakan pada zaman penjajahan, Suku Dayak dianggap rendah dan dikucilkan oleh Kesultanan-Kesultanan Melayu. Sehingga, tindakannya ini dilatarbelakangi dengan niatannya untuk mengangkat derajat Suku Dayak.[11]
Hal ini membuatnya dituntut mundur pada awal 1965, dan ia dituntut turun dari jabatan gubernurnya karena hal tersebut dan selain itu, ia dituduh telah menciptakan perpecahan etnis.[6][11
Oeray merupakan orang yang dekat dengan Soekarno/ Soekarnois. Setelah insiden pembunuhan 6 jenderal di Jakarta, ia dituding sebagai tokoh politik yang terlibat PKI.[8] Padahal menurut evaluasi Kementerian Luar Negeri, Oevaang Oeray bukanlah simpatisan PKI, melainkan anggota Partindo yang sering dideskribsikan sebagai kelompok sayap kiri.[13] Di masa itu selain anggota PPD yang dihabisi oleh Soekarno, banyak pula PNS Dayak yang diberhentikan dengan tuduhan terlibat PKI.[10]
Pada 1964, Jenderal Supardjo, Panglima Komando Tempur IV Komando Mandala Siaga mengambil kontrol secara keseluruhanKalimantan Barat sebagai komando angkatan tugas, tapi pada waktu Konfrontasi ini merupakan tahap akhir dan dia menjadi korban pergolakan politik pada Oktober 1965.[13] Kemudian pada September 1965, tibalah surat kawat dari istrinya yang memintanya untuk pulang ke Jakarta. Sesungguhnya, Syam Kamaruzaman-lah yang menyuruh istri Supardjo mengirim surat kepadanya.
Akibatnya, dia digantikan oleh A.J.Winoto. Dia ikut berpartisipasi dalam pemusnahan gerilyawan yang berada di sepanjang perbatasan Sarawak.[13]
Gubernur yang membantu Winoto saat Revolusi Brunei adalah Oeray. Dan Winoto juga sama-sama anggota Partindo dengan Oevaang Oeray.[13]
Barulah, pada tahun 1965, perpolitikan Dayak di bawah Partindo mengalami kemunduran tahun 1965. Lalu atas inisiatif komandomiliter setempat, Partindo bergabung dengan IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia), partai yang didominasi orang-orang Melayu. Adanya fusi itu membuat orang Melayu terancam, karena orang-orang Dayak mulai menguasai struktur.[11] Lalu tiba-tiba, pada tahun 1968 ada kebijakan bahwa orang-orang eks Partindo di IPKI harus dibubarkan. Tetapi permintaan itu ditolak oleh pengurus IPKI pusat. Sejak saat itu, hubungan antara Dayak dan Melayu menjadi retak
Oeray diberhentikan lebih cepat 2 bulan 10 hari sebelum habis masa jabatannya, karena keputusan pemberhentian dengan hormat dari presiden baru turun 22 September 1966, dengan Nomor 207 Tahun 1966.[8]Pada tanggal 12 Juli 1966 Mendagri, Basuki Rachmat memberhentikan dengan hormat Oevaang Oeray selaku Gubernur Kepala Daerah Kalbar dan menunjuk Letkol Soemadi BcHK sebagai gubernur baru.[14]

Dasar hukum pemberhentian Oevaang Oeray ini adalah keputusan No.UP.12/2/43-912 tanggal 12 Juli 1966 memberhentikan dengan hormat J.C Oevang Oeray selaku Gubernur Kepala Daerah Kalbar dan menunjuk Letkol Soemadi BcHK sebagai gubernur baru.[14]Guna mencari gubernur baru secara definitif, maka DPRD GR Kalbar dalam sidangnya pada tanggal 18 Juli 1966 menetapkan dua orang calon gubernur, masing- masing Kol.CHK Soemadi BCHK serta F.C Palaunsoeka.[14] Akhirnya Presiden RI mengangkat Kol CHK Soemadi BCHK sebagai Gubernur Kalbar Tingkat I melalui SK Presiden No 88 tanggal 1 Juli 1967.[14]
Pemberhentian Gubernur Oevang Oeray berdasarkan SK Presiden RI No 207 tanggal 22 September. Dengan demikian pemberhentian berdasarkan SK Mendagri Basuki Rahmat tersebut didahului SK Presiden.[14]
Pelantikan gubernur baru itu dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus 1967 pada Sidang Istimewa DPRD GR Kalbar dan dilakukan oleh Direktur Jenderal Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah Depdagri, Mayjen TNI Soenandar Prijosudarmo.[14]

Untuk menghormati tokoh ini, di Pontianak didirikan sebuah kolam renang umum dengan nama Kolam Renang Oevang Oeray.
Dan sebenarnya sudah lama Kalimantan Barat mencalonkan Oevaang Oeray dan Jeranding Abdurrahman sebagai pahlawan nasional. Tapi anehnya, pemerintah sampai saat ini belum memberikan gelar tersebut pada mereka.[15] Wakil Ketua MPR,Hajriyanto Y Thohari juga ikut memberikan dukungan atas pencalonan dua tokoh ini menjadi pahlawan nasional.
  1. ^ a b Chairunnisya. Pernah Berstatus Daerah Istimewa, Oevang Oeray Gubernur Pertama:Pemerintahan Daerah Kalimantan Barat dari Masa ke Masa. Pontianak Post. Kamis, 27 Januari 2011. Diakses pada 30 Juli 2012.
  2. ^ a b Sejarah Kapuas Hulu Depdagri. 30 Juli 2012.
  3. ^ JC Oevaang Oeray Berjuang Melalui Politik. Harian Equator. Diakses pada 14 Juli 2012
  4. ^ Endi, Severianus (8 June 2012). "W. Kalimantan proposes national heroes" [Kalbar mengajukan pahlawan nasional].The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dariaslinya tanggal 8 June 2012. Diakses 6 August 2012.
  5. ^ Bangkit Runtuhnya Partai Persatuan Dayak. Harian Equator. Diakses pada 14 Juli 2012
  6. ^ a b c Van Klinken, Gerry; Nordholt, Henk Schulte; Hoogenboom (2007). Politik Lokal di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia; KITLV. p. 467. ISBN 979-461-615-X. Diakses 14 July 2012. Unknown parameter |fisrt3=ignored (help)
  7. ^ Aritonang, Jan S. (2004). Sejarah Perjumpaan Kristen Dan Islam Di Indonesia. BPK Gunung Mulia. p. 317. ISBN 979-687-221-8. Diakses 15 July 2012.
  8. ^ a b c d Aju. JC Oevaang Oeray, Mengorbankan sang Pencetus Pancasila Sinar Harapan. 31 Mei 2011. Diakses pada 15 Juli 2012. Diarsipkan dari yang asli[pranala nonaktif]
  9. ^ a b c d Usman, Syafaruddin. Bangkit Runtuhnya Partai Persatuan Dayak: Memoar JC Oevaang Oeray: Bagian 1Equator-News. 20 November 2011. Diakses pada 28 Juli 2012. Diarsipkan dari yang asli
  10. ^ a b c d e "SEJARAH PERPOLITIKAN DAYAK DI BUMI KALIMANTAN BARAT". Info Pontianak. Diakses 17 July 2012.
  11. ^ a b c d e f g Jurnal Xa.yimg.com
  12. ^ a b Chairunnisya. Lima Tentara Pernah Menjabat Kepala Pemerintahan Pontianak Post. 28 Januari 2011. Diakses pada 28 Juni 2012.
  13. ^ a b c d Poulgrain, Greg (1998). The Genesis of Konfrontasi: Malaysia, Brunei, Indonesia, 1945-1965 [Kejadian Konfrontasi:Malaysia, Brunei, Indonesia]. London: C.Hurst & Co. Publisher. p. 262. ISBN 1-85065-510-3. Diakses 15 July 2012.
  14. ^ a b c d e f Pergantian Gubernur , J.C Oevang Oeray - Soemadi - Kadarusno Harian Borneo Tribun. Rabu, 2 Februari 2011. Diakses pada 14 Juli 2012.
  15. ^ a b Prabowo, Hermas Effendi. Oeray dan Djerandeng Layak Jadi Pahlawan Nasional Kompas. Jum'at, 13 Juli 2012. Diakses pada 15 Juli 2012.

TJILIK RIWUT

SANG JENDERAL DAYAK NGAJU DARI BUKIT BATU
------------------------------------------------------------------



Tjilik Riwut (lahir di Kasongan, Katingan, Kalimantan Tengah, 2 Februari 1918 – meninggal di Rumah Sakit Suaka Insan, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 17 Agustus 1987 pada umur 69 tahun) adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia dan Gubernur Kalimantan Tengah. Ia meninggal setelah dirawat di rumah sakit karena menderita penyakit lever/hepatitis dalam usia 69 Tahun, dimakamkan di makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangka Raya Kalimantan Tengah.

Ia mengikuti pendidikan setingkat SD, kemudian memasuki Sekolah Perawat di Purwakala dan Bandung. Pada 1938, dengan beberapa rekannya, ia mendirikan organisasi Pakat Dayak yang bertujuan meningkatkan citra masyarakat Dayak. Untuk itu, Pakat Dayak menerbitkan majalah Sastra Rakyat, ia bertugas sebagai pemimpin redaksi. Sesudah kemerdekaan, ia berjuang bersama pemuda Kalimantan yang ada di Jawa. Rombongan demi rombongan pemuda dikirim ke Yogyakarta untuk menggerakkan perjuangan di Kalimantan. Salah satu rombongan itu dipimpin Mayor Tjilik Riwut. Di Kota Waringin, ia mendirikan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Di beberapa tempat didirikannya pasukan bersenjata untuk melakukan perang gerilya melawan Belanda. Ia beberapa kali terlibat dalam pertempuran. Ia juga mengadakan pertempuran dengan kepala-kepala suku-suku Dayak. Dari pertempuran itu lahirlah Sumpah Setia Masyarakat Suku Dayak terhadap RI.

Tjilik Riwut yang dengan bangga selalu menyatakan diri sebagai "orang hutan" karena lahir dan dibesarkan di belantara Kalimantan, adalah pencinta alam sejati juga sangat menjunjung tinggi budaya leluhurnya. Ketika masih belia ia telah tiga kali mengelilingi pulau Kalimantan hanya dengan berjalan kaki, naik perahu dan rakit.

Tjilik Riwut adalah salah satu putera Dayak yang menjadi KNIP. Perjalanan dan perjuangannya kemudian melampau batas-batas kesukuan untuk menjadi salah satu pejuang bangsa. Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1998 merupakan wujud penghargaan atas perjuangan pada masa kemerdekaan dan pengabdian membangun Kalimantan (Tengah).

Setelah dari Pulau Jawa untuk menuntut ilmu, Tjilik Riwut diterjunkan ke Kalimantan sebagai pelaksana misi Pemerintah Republik Indonesia yang baru saja terbentuk, namun beliau tidak terjun. Nama-nama yang terjun merebut kalimantan adalah Harry Aryadi Sumantri, Iskandar, Sersan Mayor Kosasih, F. M. Suyoto, Bahrie, J. Bitak, C. Williem, Imanuel, Mika Amirudin, Ali Akbar, M. Dahlan, J. H. Darius, dan Marawi.
Rombongan-rombongan ekspedisi ke Kalimantan dari Jawa yang kemudian membentuk barisan perjuangan di daerah yang sangat luas ini. Mereka menghubungi berbagai suku Dayak di berbagai pelosok Kalimantan untuk menyatukan persepsi rakyat yang sudah bosan hidup di alam penjajahan sehingga bersama-sama dapat menggalang persatuan dan kesatuan.

Pda awal Desember 1946 Tjilik Riwut kembali ke Yogyakarta. Sementara itu, AURI melakukan operasi penerjunan pasukan di Kalimantan pada tanggal 17 Oktober 1947. Ia ikut sebagai penunjuk jalan. Para prajurit AURI berhasil diterjunkan dekat Kotawaringin. Penerjunan itu adalah penerjunan pertama yang dilakukan AURI. Sesudah Perang Kemerdekaan berakhir, ia diangkat sebagai Wedana Sampit, kemudian Bupati Kotawaringin, dan akhirnya Gubernur Kalimantan Tengah. Ia berjasa membangun Palangkaraya sebagai ibukota Kalimantan Tengah. Sebagai gubernur, ia berhasil meningkatkan kesejahteraan dan memajukan pendidikan penduduk Kalimantan Tengah. Ia pernah pula bertugas sebagai anggota DPR dan DPA. AURI menganugerahinya pangkat Laksamana (Marsekal) Pertama Kehormatan berkat jasa-jasanya di lingkungan AURI dikarenakan jasanya memimpin Operasi Penerjunan Pasukan Payung Pertama dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada tanggal 17 Oktober 1947 oleh pasukan MN 1001, yang ditetapkan sebagai Hari Pasukan Khas TNI-AU yang diperingati setiap 17 Oktober. Waktu itu Pemerintah RI masih di Yogyakarta dan pangkat Tjilik Riwut adalah Mayor TNI. Pangkat Terakhir Tjilik Riwut adalah Marsekal Pertama Kehormatan TNI-AU.

Tjilik Riwut adalah salah seorang yang cukup berjasa bagi masuknya pulau Kalimantan ke pangkuan Republik Indonesia. Sebagai seorang putera Dayak ia telah mewakili 142 suku Dayak pedalaman Kalimantan bersumpah setia kepada Pemerintah RI secara adat dihadapan Presiden Sukarno di Gedung Agung Yogyakarta, 17 Desember 1946.

Sebagai tentara, pengalaman perangnya meliputi sebagian besar pulau Kalimantan dan Jawa. Setelah perang usai, Tjilik Riwut aktif di pemerintahan. Dia pernah menjadi Gubernur Kalimantan Tengah, menjadi koordinator masyarakat suku-suku terasing untuk seluruh pedalaman Kalimantan, dan terakhir sebagi anggota DPR RI.
Keterampilan dalam menulis diasahnya semasa dia bergabung dengan Sanusi Pane di Harian Pembangunan. Tjilik Riwut telah menulis sejumlah buku mengenai Kalimantan: Makanan Dayak (1948), Sejarah Kalimantan (1952), Maneser Panatau Tatu Hiang (1965,stensilan, dalam bahasa Dayak Ngaju), Kalimantan Membangun (1979).
[sunting]Referensi

Riwut, Nila, 2007, Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan, Yogyakarta: NR Publishing.
Riwut, Nila, 2003, Maneser Panatau Tatu Hiang, Pusaka Lima

Karungut ,kesenian khas Dayak Ngaju

            Kita boleh bangga akan keragaman budaya yang dimiliki oleh bangsa kita Indonesia tercinta ini. Dari sekian banyak budaya yang ada terdapat salah satunya adalah Karungut  yaitu syair yang dinyanyikan dengan iringan kecapi atau alat musik lainnya,  Tapi bagi masyarakat suku Dayak , karungut bukan hanya sekedar syair tanpa makna  namun  syair yang ada dalam karungut mengandung pemujaaan terhadap sang pencipta, pesan, cerita, nasehat ataupun nilai-nilai luhur  yang ingin disampaikan kepada pendengarnya.
            
           Meskipun perkembangan jaman sangat pesat, namun saya berharap semoga generasi muda Suku Dayak tetap bangga  dan menjaga  budaya warisan nenekmoyang kita termasuk Karungut ini.Salah satu isi karungut bisa berupa pesan,atau curahan hati dan perasaan seseorang maka saya mencoba menyampaikan lewat karungut tetang cerita, harapan  dan rasa kekaguman  saya terhadap sosok Pahlawan Nasional dari Suku Dayak yaitu Almarhum  Bapak  Tjilik Riwut   seperti di bawah ini.


           
            Salamat hasundau tundah pahari
            Aku handak nampara bakesah
            Nyarita tokoh je jadi malihi
            Tapi bajasa hai akan utus itah
           
            Atun kesah oloh bakas huran
            Intu lewu je bagare Kasongan
            Anak hatue jadi inakan
            Je harian andau jadi pahlawan

            Due Pebruari andau bahagia
            Jadi inakan hatue bakena
            Hanjak tutu uras keluarga
            Tarimakasih dengan Hatalla

            Anak te inggare Tjilik Riwut
            Bara kurik je puna gagah
            Aku bakesah into karungut
            Mangat tabuka ingatan itah

            Tjilik Riwut nampara hai
            Mamparahan sifat anak berbakti
            Sanang atei kawan pahari
            Mundahan cita-cita tau manjadi

            Tjilik Riwut malihi lewu
            Ie sakula into Pulau Jawa
            Tulak kejau manggau ilmu
            Dia paduli pisah dengan indu bapa

            Dengan tekad bulat ie palus tulak
            Malihi lewu tuntang tundah kula
            Ie mamimpin Majalah Pakat Dayak
            Hapan manggatang sewut sarita

            Mamut menteng je Tjilik Riwut
            Jete puna katawan oloh
            Ie bahanyi tuntang basewut
            Pantang mundur naharep musuh

            Isen Mulang puna akan penyang
            Malawan musuh je puna manantang
            Tjilik Riwut metuh berjuang
            Tarung saritae nampara lampang

            Kapal tarawang angkatan udara
            Handak dumah ka Kalimantan
            Tjilik Riwut hete tege umba
            Intu tangkasulak je penerjunan

            Kutawaringin jadi tujuan
            Intu tangkasulak je penerjunan
            Ie dumah hayak rombongan
            Salajur akan panunjuk jalan

            Jaman perang te jadi terai
            Negara itah nampara damai
            Tjilik Riwut berjuang tinai
            Jadi pemimpin itah handiai

            Pembangunan jadi inampara
            Intu lewu Palangkaraya
            Masyarakat bebas bagawi bausaha
            Anak oloh giat sakola

            Tjilik Riwut jadi malihi
            Tapi jasae ingganang itah
            Aran pahlawan tetep abadi
            Biar umur je jadi lepah

            Ie malihi nyelu tien belas hanya uju
            Ingubur into Sanaman Lampang
            Semangat juang duan akan suntu
            Sarita utus Dayak inggatang.

            Tatu hiang utus pamalan
            Menda andau je mandang ujan
            Tjilik Riwut jadi pahlawan
            Keleh duan akan teladan

            Kawan pahari bakas tabela
            Tambi bue tuntang mina mama
            Keleh itah ela ngalapea
            Kare kesah tokoh bajasa

            Sampai hetuh auh karungut
            Akan itah je tundah kula
            Aku mangesah tokoh basewut
            Maaf amun kutak ku sala.