01

Senin, 03 Juni 2013

SEGREGASI KEBUDAYAAN DAYAK DI KALIMANTAN BARAT

Dilihat dari jumlah populasi penduduknya, terdapat dua kelompok masyarakat pelaku kebudayaan dominan yang berkembang di Kalimantan Barat. Yaitu, masyarakat Melayu dan masyarakat Dayak. Dalam tulisan ini, istilah Dayak dan Melayu lebih merupakan istilah-istilah tematik yang digunakan semata untuk membedakan dua kelompok masyarakat yang memiliki kebudayaan relatif berbeda di Kalimantan Barat. Melayu adalah kelompok masyarakat pelaku kebudayaan dengan adat istiadat bercorak Islam, relatif lebih banyak mendiami wilayah-wilayah sekitar daerah pesisir pantai atau sungai, serta relatif memiliki bentuk-bentuk kebudayaan alam perairan laut dan sungai (maritim). Sementara Dayak adalah kelompok masyarakat pelaku kebudayaan terestrial Kalimantan yang relatif lebih banyak mendiami wilayah-wilayah pedalaman, memiliki kebudayaan dan adat istiadat yang berorientasi pada alam daratan (hutan), dan memilik dengan pola kehidupan ekonomi yang relatif bersifat subsisten (berorientasi pada pola pemenuhan kebutuhan sendiri).
Meskipun bukan menjadi yang utama, sebagian dari masyarakat Dayak__dalam pengertian tulisan ini[1]__juga relatif banyak yang menggunakan sungai sebagai salah satu sumber sistem mata pencaharian kehidupan mereka. Terutama bagi mereka yang memang bermukim di daerah-daerah hulu sungai. Meski demikian, orientasi daratan tetap menjadi pilihan yang lebih bagi pola-pola kebudayaan yang mereka kembangkan. Sebaliknya dengan Melayu, dalam sebagian kecil masyarakatnya juga banyak yang tidak mengenal kebudayaan perairan. Kelompok ini, adalah masyarakat yang berasal dari pelaku kebudayaan daratan atau Dayak, yang oleh karena berubahnya satu hal atau lebih yang berhubungan dengan identitas budaya, agama dan bahasa mereka, kemudian mengidentifikasikan dirinya sebagai Melayu. Atau bahkan memang adalah masyarakat asli pelaku kebudayaan Melayu yang oleh karena suatu alasan ekonomi atau lainnya kemudian melakukan migrasi ke wilayah-wilayah pedalaman.
Di antara mereka sendiri, Melayu dan Dayak, sering kali mengidentifikasi dua kebudayaan yang saling berbeda ini dengan istilah-istilah yang bersifat diakronim dan dikotomis. Misalnya adalah istilah darat dan laut, atau istilah atas dan bawah. Istilah-istilah ini sebenarnya lebih merupakan personifikasi identitas budaya berdasarkan asal usul wilayah, atau teritori, selain istilah pesisir dan pedalaman. Misalnya dalam istilah pengidentifikasian “orang darat dan orang laut”. Orang darat adalah menunjuk kepada pengertian identitas orang asli Dayak. Sementara orang laut adalah menunjuk kepada pengertian identitas orang Melayu, ‘atau yang menjadi Melayu’. Demikian juga dengan istilah atas (gunung) dan bawah (lembah), yang juga menunjuk pada pengertian Dayak dan Melayu. Namun seiring dengan perkembangan pola interaksi, jangkauan mobilitas, dan aksesibilitas fisik yang menghubungkan antar satu sama lain wilayah, istilah-istilah ini semakin mulai jarang terdengar, kecuali pada wilayah-wilayah tertentu di pedesaan. Oleh karena sebagian dari mereka ini telah hidup bersama dan berakulturasi dengan kelompok-kelompok masyarakat lain, yang tidak sebatas kelompok Melayu dan Dayak.
Selain kedua kelompok masyarakat pelaku kebudayaan dominan tersebut, ada juga kelompok masyarakat keturunan Tionghoa atau China yang juga dikenal memiliki kebudayaan khas asli ciri Tionghoa/China Kalimantan Barat. Disebut demikian, karena mereka selama ini telah mengembangkan satu bentuk kebudayaan sinkretis, dari proses akulturasi dan adaptasi terhadap kondisi lingkungan masyarakat di Kalimantan Barat. Salah satu wujud manifestnya yang terkenal adalah beberapa nama wilayah tertentu yang berasal dari penamaan China, seperti Singkawang dan Bengkayang atau lainnya, bentuk pemerintahan republik China kecil Mandor dan Monterado,[2] atau bentuk atraksi Loya (Tatung) dalam bagian ritual perayaan Cap Go Meh yang merupakan hasil proses akulturasi dengan budaya masyarakat Dayak.[3]
Seperti halnya Melayu dan Dayak, Tionghoa juga kemudian merupakan salah satu bagian dari masyarakat pelaku kebudayaan Kalimantan Barat. Tidak saja karena sebagian bentuk dan ciri-ciri dari kebudayaannya selama ini relatif hanya di miliki, dan telah menjadi bagian dari identitas kebudayaan masyarakat Kalimantan Barat. Tetapi juga karena sejarah pembentukan pola-pola kebudayaan masyarakat Kalimantan Barat ini, ternyata tidak pernah lepas dari pengaruh entitas-entitas kebudayaan mereka satu sama lain. Yaitu, Melayu, Dayak dan Tionghoa.
Selain ketiga kelompok masyarakat dominan tersebut, terdapat juga kelompok-kelompok masyarakat pelaku kebudayaan lain, yang oleh karena suatu hal, baik secara mandiri maupun atas prakarsa program pemerintah, melakukan migrasi ke wilayah-wilayah Kalimantan Barat. Seperti kelompok masyarakat Jawa, Madura, Bugis, Banjar dan lain sebagainya.
Dari sejumlah kelompok masyarakat pelaku kebudayaan yang ada, sepertinya hanya Melayu, Dayak dan keturunan China atau Tionghoa yang relatif masih memiliki pola kebudayaan asli dan khas, yang mencirikan satu sama lain identitasnya sejak lama. Masing-masing diantara mereka, dalam sejarahnya pernah mengembangkan pola dan bentuk organisasi pemerintahan tradisional sendiri, sebagai bagian dari ciri identitas kebudayaan mereka selama ini. Masyarakat Melayu (mengacu pada pengertian dengan label agama Islam) dengan bentuk pemerintahan kesultanan (kerajaan Islam), Dayak dengan sistem pemerintahan adat binua, banua, atau ketumenggungan adat. Sementara masyarakat Tionghoa dengan sistem pemerintahan republik kecil yang merupakan bagian dari bentuk pengembangan kongsi-kongsi pertambangan dan juga perdagangan mereka.
Dalam sejarah Kalimantan Barat memang ada satu kelompok masyarakat lain yang eksistensinya sudah ada jauh sejak jaman kerajaan-kerajaan Islam berkembang, yaitu Bugis. Bahkan ada kesultanan yang dalam satu periode kepemimpinannya pernah dipimpin oleh seorang keturunan Bugis bernama Daeng Menambon, di Kerajaan Mempawah. Akan tetapi, perkembangan politik kebudayaannya di Kalimantan Barat relatif tidak terlalu menonjol. Sehingga sebagian dari identitas kebudayaan mereka saat ini telah menjadi lebur dalam pengaruh identitas kebudayaan Melayu. Terutama karena faktor kesamaan agama yang mereka anut, yaitu Islam.
Segregasi dan Pola Pembentukan Identitas
Kalimantan Barat ini memang unik. Salah satu keunikan dari Kalimantan Barat ini adalah menyangkut polarisasi identitas pelaku kebudayaan dalam pola-pola sejarah pembentukan strukturnya di masyarakat. Selain istilah-istilah teritori yang diakronim dan dikotomis, identitas keagamaan modern juga menjadi satu dalam kesatuan identitas kebudayaan yang saling mengidentifikasi. Terutama yang menyangkut sejarah pola-pola pembentukan identitas kebudayaan dua kelompok masyarakat “anak suku asli” Kalimantan Barat, yaitu Melayu dan Dayak. Melayu selalu identik dengan Islam, dan semua hal yang berkaitan dengan budaya Islam. Sementara Dayak sendiri senantiasa identik dengan non Islam. Terlebih semenjak periode mulai banyak beralihnya bentuk-bentuk kepercayaan tradisional mereka kepada Nasrani, sebagai bagian dari program apa yang disebut oleh pemerintah orde baru meng-agamakan masyarakat Dayak, pasca peristiwa yang secara eufimistik disebut sebagai demonstrasi terhadap China, 1967.[4] Peristiwa ini kemudian semakin menguatkan pola-pola pembentukan identitas sejarah kebudayaan kelompok suku di Kalimantan Barat yang identik dengan agama. Melayu identik dengan Muslim, Dayak identik dengan Nasrani, dan Tionghoa identik dengan Konghucu dan Budha. Meski belakangan, pasca polarisasi-polarisasi politik identitas yang menguat dalam kasus-kasus konflik politik etnisitas, muncul satu bentuk wadah organisasi bernama Ikatan Dayak Islam.[5] Sebuah organisasi yang mungkin hanya terdapat di Kalimantan Barat, menunjuk pada pengertian kumpulan orang-orang Dayak Muslim yang saat itu mulai mengakui kembali identitas jati dirinya sebagai bagian dari masyarakat kultural Dayak. Istilah yang sepertinya menegaskan kembali adanya bentuk pergulatan politik, antara eksistensi kultural dan identitas agama di Kalimantan Barat. Seperti halnya istilah senganan yang mungkin juga hanya berlaku di Kalimantan Barat, menunjuk pada satu pengertian identitas masyarakat Dayak yang menganut Islam, dan menjadi Melayu.
Secara morfologi, tidak pernah diketahui sejak kapan istilah/konsep ‘senganan‘ ini mulai digunakan oleh masyarakat. Karena belum ada satu pun sumber literartur yang diperoleh, dus, mampu menjelaskan bagaimana istilah ini mulai di kontruksikan. Ada banyak pendapat yang mencoba untuk menerangkan kapan dan mengapa istilah ini mulai muncul, di kontruksikan, serta dipopulerkan sebagai label yang melekat bagi masyarakat Dayak muslim Kalimantan Barat. Pertama adalah sejak peradaban Islam mulai berkembang di wilayah-wilayah Kalimantan Barat, yang ditandai dengan masuk dan berkembangnya bentuk-bentuk kerajaan (kesultanan) Islam di sepanjang lembah-lembah daerah aliran sungai. Di duga istilah ini merupakan bagian dari kontruksi sosial yang dibangun oleh mereka sendiri, sebagai upaya untuk menegaskan berpindahnya sistem kepercayaan tradisional mereka kepada pola peradaban kebudayaan baru, yaitu Islam, dan menjadi Melayu. Pertanyaannya kemudian, kepada siapa tujuan penegasan identitas ini ditujukan? Kepada kelompok masyarakat lain yang sudah menjadi Melayu, atau kepada komunitasnya sendiri? Apa yang menjadi motivasi sosial di belakangnya? Untuk sementara jawabannya masih menjadi misteri. Kedua adalah terjadi dalam periode yang sama, tetapi di kontruksikan secara sosial justru oleh Melayu. Di duga istilah ini digunakan oleh pihak Melayu Kesultanan sebagai bagian dari upaya untuk memudahkan dalam mengenali masyarakat-masyarakat pedalaman yang telah menjadi Muslim pada saat itu. Kemudian diterima oleh anggota masyarakat yang menjadi Muslim ini, sebagai simbol dari mobilitas status sosial mereka. Menjadi logis mungkin, karena struktur sosial yang di bangun oleh Kesultanan saat itu, menempatkan Dayak dalam struktur kelas yang ke dua, atau lebih rendah dari masyarakat Melayu, Eropa dan Tionghoa. Pertanyaannya, mengapa kata senganan ini justru tidak familiar di dalam kosa kata Melayu? Mengapa istilah ini kemudian justru masih sering terdengar di kalangan masyarakat Dayak non Muslim itu sendiri, puluhan atau bahkan ratusan tahun rentang usianya dari waktu saat ini. Belum lagi, dalam mitelogi, hikayat, legenda dan atau apapun yang berhubungan dengan kesultanan Melayu, sekalipun naskah-naskah kerajaan, tidak ada satupun kata yang menyebutkan istilah senganan. Jawaban untuk yang satu ini ternyata juga masih menjadi misteri. Dan yang ketiga atau yang terakhir adalah sejak kedatangan bangsa-bangsa kolonialis asing ke wilayah-wilayah pedalaman Kalimantan Barat pada tahun 1800-an. Di duga kuat istilah ini merupakan bagian dari strategi yang dibangun orang-orang Belanda untuk memudahkan pembedaan secara dikotomis antara kelompok-kelompok masyarakat pada masa itu secara administratif.[6] Sehingga__jika tidak mungkin menjadi berlebihan__upaya-upaya untuk menanamkan pengaruh kekuasaan kolonialnya akan menjadi semakin mudah. Inipun sebenarnya juga masih menjadi misteri. Karena istilah senganan ini ternyata juga asing dalam tulisan-tulisan awal mereka tentang masyarakat Kalimantan Barat. Kecuali pada bentuk tulisan yang secara sengaja di reproduksi ulang oleh mereka, atau pihak ketiga yang kemudian mengutip dalam bentuk kajian atau terjemahannya saat ini.
Terlepas pendapat mana yang lebih benar, namun satu yang pasti, proses-proses segregasi (membangun bagian-bagian yang tidak didasarkan pada prefensi) identitas masing-masing kelompok pelaku kebudayaan tersebut, membuat struktur masyarakat dan kebudayaan di Kalimantan Barat ini menjadi semakin lebih rumit dan kompleks. Serumit dan sekompleks sejarahnya dalam pengertian identitasnya itu sendiri satu sama lain.

[1] Merujuk pada pengertian suku asli Kalimantan yang memiliki budaya teresterial atau daratan, pengertian yang sama juga terdapat, dan di kutip dalam, http://wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak, ; ensiklopedia bebas, wikipedia berbahasa Indonesia
[2] Cukup di akui bahwa bentuk pemerintahan republik kecil yang pernah di bangun sebagai pengembangan kongsi-kongsi perdagangan dan pertambangan kelompok Tionghoa ini merupakan ciri khas dari sejarah dan kebudayaan Tionghoa Kalimantan Barat. Karena bentuk pemerintahan kecil ini, dalam hal-hal tertentu yang khusus, sementara hanya teridentifikasi di wilayah Kalimantan Barat. Lihat Bambang Suta Purwata dalam laporan penelitian Kongsi Orang China di Monterado.
[3] Tatung sendiri merupakan salah satu unsur kebudayaan khas Tionghoa Kalimantan Barat yang cukup menarik perhatian para wisatawan budaya, baik lokal maupun mancanegara untuk datang ke Kalimantan Barat. Dalam beberapa proses dan atraksinya, Tatung ternyata lebih mirip dengan Kamang Tariu milik Dayak, yang prosesinya selalu menggunakan seseorang yang dalam kondisi trance.
[4] Atau mem-Pancasila-kan masyarakat Dayak. Lihat Jammie S. Davidson dan Dauglas Kammen dalam INDONESIANS UNKNOWN WAR AND THE LINEAGES OF VIOLENCE IN WEST KALIMANTAN, 2002.
[5] Ikatan Dayak Islam ini tidak lebih dari organisasi yang berdiri karena adanya polarisasi identitas kultural dan agama terhadap konflik-konflik politik praksis yang terjadi saat itu. Dan bukan lazimnya sebuah organisasi dakwah seperti yang kita kenal dalam sebuah lembaga yang melibatkan nama agama dan identitas kultural.
[6] Dalam kasus ini, istilah senganan kemungkinan diberikan terhadap masyarakat Dayak pedalaman yang menyatu dan berbaur dalam kebudayaan Islam pada saat itu. Mengingat, menurut Institute Dayakologi, berdasarkan pengertian Daya’ dalam banyak varian yang berarti ‘Hulu’ dan ‘Manusia’, para peneliti dari Eropa sekitar tahun 1800-an, mendefinisikan Dayak sebagai ‘manusia pedalaman’, ‘non muslim’, ‘primitif’, ‘tidak berperadaban’ dan citra negatif lainnya. Apalagi orang Dayak pada masa itu, jika di datangi oleh orang luar akan semakin jauh berpindah ke hulu sungai dan wilayah pegunungan karena kalah bersaing. Lihat dalam Kebaragaman Sub Suku dan Bahasa Dayak ; Institute Dayakologi, hal 11.


DAYAK TIDAK IDENTIK DENGAN SATU AGAMA

Bicara soal agama ya memang susah. Susahnya adalah bahwa kita semua beda agama dan beda kepercayaan, namun yang unik adalah beda agama namun satu kepercayaan, nah apa itu? ya budaya. Jawaannya agama budaya. Kebetulan saya suku Dayak Bakati dan saya sudah beragama Katolik sejak lahir. Budaya Dayak ada dalam sanubari saya dan saya mencintainya karena tidak mungkin saya harus pensiun jadi orang Dayak dan pindah suku, sebab Tuhan
sudah menaruh saya sebagai suku Dayak tentu ada maksudnya. Dalam agama saya yang Katolik itu, saya pun hidup dalam budaya Dayak yang juga mengimani Tuhan penguasa semesta alam.

Yang saya tahu dalam budaya Dayak yang diajarkan adalah budi pekerti, kebaikan antara Penompa, Jubata, Duwata dsb dengan manusia. Manusia harus menghormati alam ciptaannya sehingga selangkah apapun orang Dayak harus minta ijin terlebih dahulu kepada Tuhan melalui alam, misalnya membuat ladang, mereka harus ijin dan memberikan persemebahan serta doa-doa dalam bahasa nyangahatn (lantunan syair doa dalam bahasa halus) meminta Tuhan memberikan berkat Nya. Yang perlu kita ketahui adalah media agama/kepercayaan yang kita gunakan dalam mengenal Tuhan ternyata tidak sama satu dengan lainnya, nah itu yang patut kita hargai. Yakinlah jika dia seorang Dayak yang beragama Islam maka dia memiliki kepercayaan yang sama dengan seorang Dayak yang beragama Kristen yakni sama-sama percaya bahwa ajaran agama kepercayaan dari agama adat budayanya itulah yang mengallir dalam sanubarinya dan itu pulalah yang membuat setiap orang menjadi satu dalam keluarga besar Dayak dimana ketika menyatu dalam Dayak tidak ada istilah Islam, KrIsten, Hindu, Budha dan sebagainya semua mereka menyatu dalam kepercayaan yang sama yakni budaya Dayak yang mengajarkan banyak budi pekerti. Perlu diketahui pula bahwa sebelum Hindu muncul di Indonesia, orang Dayak telah lebih dahulu beragama asli yang kemudian bermutasi menjadi Hindu di Kutai sementara suku-suku lainnya di Indonesia belum beragama Hindu termasuk Jawa yang termasyur itu. Artinya penyebaran Hindu setelah di Kalimantan tentulah salah satunya ke Jawa melalui hubungan Kutai dengan wilayah-wilayah lainnya di nusantara.

Sangat tidak masuk diakal jika Kutai sebuah kerajaan tertua di nusantara dengan masa jayanya yang berabad-abad tidak mempengaruhi wilayah lainnya di nusantara? Pasti Jawa, Sumatera, Sulawesi juga mendapat pengaruh besar dari Kutai kerajaan Hindu Dayak tertua di nusantara.
Saya agak heran, kata “Dayak” dalam menyebutkan kerajaan Kutai hampir tidak terdengar, apa sengaja dihilangkan agar terkesan bahwa Kutai bukan kerajaan Dayak. Tugas kita semua untuk menyebarkan bahwa Kutai pertama adalah Kutai Dayak yang beragama Hindu. Artinya Dayak memiliki pengaruh besar di Indonesia dan menyumbangkan pemikiran serta sejarah yang tak ternilai harganya. Saya bangga menjadi orang Dayak sebab sejarah membuktikan bahwa Kerajaan tertua ada di Kalimantan dengan rajanya yang bernama Kudungga seorang Dayak asli Kalimantan yang telah beragama Hindu. Kejayaan Dayak tersebut kemudian direbut paksa oleh Kertanegara melalui siasat dan kemudian Kutai Dayak jatuh dan berubah nama menjadi Kutai Kertanegara. Walaupun kalah, sejarah telah melukiskan bahwa pemilik pertama kerajaan Kutai adalah orang Dayak asli. Ini yang saya sangat banggakan. Jadi mari kita mengangkat dan mencari tahu tentang diri kita sendiri. Sejarah kita telah banyak dimanipulasi Jakarta dan orang-orang yang tidak ingin mengungkapkan tentang Dayak si pemilik syah Kerajaan Kutai itu. Mereka sengaja menyembunyikannya dari kita agar anak cucu kita tidak mengetahui lagi sejarah sesungguhnya. Mari Dayak bersatulah, sebab engkau pernah memiliki Raja dan yang pertama di nusantara ini. Engkau telah mengajari Jawa dan Sumatera untuk mendirikan kerajaan-kerajaan baru yang kemudian menjadi kerajaan yang ternama.
Pelajaran itu mereka dapatkan dari “DAYAK”.


Pendapat Yang sama juga di sampaiakan Seorang Dayak Muslim, bernama Sumin, alumnus Universitas Tanjung Pura (Untan) Orangtuanya asli Suku Dayak dan tinggal di Desa Beginci Darat, Kabupaten Ketapang, Kalbar. Mereka menyembah roh nenek moyang yang telah meninggal yang dipercaya tinggal di pohon, batu besar, dan benda lainnya. Sumin masuk Kristen ketika SMP karena dibaptis oleh seorang suster. dalam perjalan hidfup selanjutnya Dia berpindah keimanan menjadi Kristen. Menurut Sumin, ada kebiasaan bahwa jika orang Dayak masuk Islam maka disebut Suku Melayu. Hal itu tidak lain karena hampir semua orang Melayu di Kalbar adalah Muslim. Penyebutan itu agar tidak ada kesan orang Dayak itu identik dengan Islam. Padahal katanya, sejak dulu, sudah banyak orang Suku Dayak yang masuk Islam.
“Penyebutan Suku Melayu bagi Suku Dayak yang masuk Islam itu sudah berlangsung lama, sejak imperialisme Belanda,” ungkap sarjana ekonomi dengan IPK 3.57 yang kini menjadi dosen Statistik di STAIN Pontianak ini.


Hal itu di buktikan adanya komunitas masyarakat Muslim Dayak yang tetap terguh memegang Budaya dan bahasa Dayaknya walaupun telah beragama islam seperti Dayak Mendawai di Kotawaringin Barat , Dayak Katingan, Dayak Kapuas/ Baradia, Seruyan di Kalimantan Tengah. Dayak Bakumpai dan dusun Deah di Kalimantan Selatan. Dayak melanau dan Bidayah di Sarawak serta Tidung di Kalimantan Utara.


 http://dempo-timur.blogspot.com

UPACARA ADAT ARUH GANAL

Masyarakat Dayak umumnya dan masyarakat dayak meratus khususnya dalam kehidupan keseharian mereka senantiasa sarat dengan berbagai upacara adat, hampir sepanjang tahun mereka lewati dengan upacara. Upacara adat merupakan manifestasi dari rasa syukur dan ketidakberdayaan mereka menghadapi berbagai tantangan da-lam kehidupan tanpa bantuan para dewa dan leluhur. Semua upacara yang dilakukan hampir seluruhnya terkait dengan usaha perladangan atau manugal

 
Upacara dalam bidang pertanian yang mendominasi dalam kehidupan warga Dayak  meratus Papagaran khususnya, dan seluruh Masyarakat Dayak di kecamatan Hantakan. Upacara yang dilaksanakan pada saat padi mengurai disebut Upacara Basambu Umang/tolak bala, dan upacara setelah panen yang dinamakan bawanang sebanyak dua kali. Upacara  dilaksanakan di balai selama 4 - 8 hari. Upacara tersebut kadang ditambah dengan nadhar antara   3 – 5  tahun sekali, dengan persembahan hewan ternak babi.
 
Kegiatan ritual ini diikuti oleh semua warga balai yang diam di balai, dan yang berada di luar balai/rumah. Selama upacara berlangsung, seluruh anggota keluarga tinggal di balai. Hanya sekali-sekali  menjenguk rumahnya apabila sangat perlu, biasanya rumah ditinggalkan kosong selama upacara. Suku Dayak juga melakukan penyembuhan penyakit dengan upacara tandik atau baharagu. Upacara tandik ini dilakukan oleh balian dengan membaca mantera sambil menari-nari mengelilingi penderita. Tetapi tidak semua penyakit dapat disembuhkan dengan upacara tandik. Hanya penyakit yang disebabkan oleh roh-roh jahat atau yang disebut dengan uyuh yang dapat dilakukan dengan upacara tersebut oleh balian.






10 BUDAYA DAYAK MARATUS TERANCAM HILANG

Sedikitnya sepuluh macam budaya masyarakat adat Dayak Meratus, khususnya di wilayah Balai Gadang dan Balai Limbur di Kecamatan Hampang, Kabupaten Kota Baru, Kalimantan Selatan, terancam hilang dan punah.Menurut Wakil Koordinator Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalsel Juliade saat ditemui di Paringin, Ibu Kota Balangan, Senin, hal tersebut diketahui berdasarkan hasil inventarisasi yang telah mereka lakukan.
     
"kami telah melakukan inventariasasi keanekaragaman hayati dan kaitannya dengan kehidupan masyarakat adat Dayak Meratus di kedua Balai tersebut dan diketahui sedikitnya sepuluh macam kebudayaan mereka terancam punah," ujarnya.Kegiatan inventarisasi dilakukan oleh AMAN Kalsel bekerja sama dengan Yayasan Kehati Jakarta guna mengetahui kehidupan masyarakat adat Dayak Meratus di kedua balai tersebut pada sepuluh tahun yang lalu dan sekarang.
     
Hasil inventarisasi itu, ujarnya, dituangkan dalam bentuk buku yang saat ini masih dalam proses pengerjaan, memuat Tabel Biodiversity tentang berbagai aspek kehidupan masyarakat adat Dayak Meratus di Balai Gadang dan Balai Limbur.  Tabel Biodiversity memuat tentang Makanan Karbohidrat yang terdiri dari buah-buahan, sayuran dan hewan buruan sebagai bahan makanan, budaya, pengembangan ekonomi, energi, tumbuhan obat, bahan rumah tangga, lingkungan dan sandang atau pakaian," katanya.
     
Semua aspek kehidupan yang termuat dalam Tabel Biodiversity itu disajikan dengan perbandingan antara sepuluh tahun yang lalu dengan keadaan sekarang.Berdasarkan hasil inventarisasi itulah, beberapa kebudayaan berupa permainan tradisional Dayak Meratus seperti balogo, babintih dan gasing kini sudah tidak dimainkan lagi.  Selain itu, kesenian tradisional Dayak Meratus seperti tampihikan, kuriding, radab, gunggut, baandi-andi, batutur dan serunai juga tidak dimainkan lagi.
     
"Minat generasi muda Dayak Meratus terhadap kebudayaan itu sudah sangat kurang. Permainan dan seni itu hanya diketahui oleh kaum tua saja sehingga keberadaannya kini terancam punah," tambahnya. Kurangnya minat generasi muda Dayak Meratus dalam mempelajari dan melestarikan budaya setempat, dipandang sebagai akibat negatif dari tekhnologi. Perkembangan tekhnologi membuat generasi muda Dayak Meratus memandang budaya tradisional sebagai sesuatu yang kuno sehingga mereka enggan untuk melestarikannya.
     
Kondisi tersebut katanya, bila tidak segera diatasi akan semakin membuat budaya tradisional Dayak Meratus hilang dan mengalami kepunahan. Perlu adanya pemahaman, penguatan dan perubahan pola pikir di kalangan generasi muda Dayak Meratus tentang arti pentingnya menjaga dan melestarikan kebudayaan mereka," katanya.Penting untuk ditanamkan bahwa bila mereka menginginkan pengakuan dan dihormati maka harus dimulai dari diri mereka sendiri agar bisa mengakui dan menghormati adat istiadat serta budaya yang dimiliki.
     
Untuk itu perlu adanya kepedulian dan keterlibatan semua pihak, seperti para tetuha adat, pihak swasta seperti LSM dan lembaga adat serta pemerintah melalui pendidikan di sekolah, demikian Juliade.
 
 

Dayak Meratus Tuntut Pengakuan Kaharingan Sebagai Agama

Ratusan masyarakat adat Dayak Meratus di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Kalimantan Selatan bersama Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menuntut pengakuan terhadap Kaharingan sebagai agama yang mereka anut. Tuntutan mereka tersebut disampaikan melalui aksi unjuk rasa di depan kantor bupati dan DPRD HST di Kota Barabai, ibukota HST, akhir tahun 2012 yang lalu. Unjuk rasa berlangsung damai yang dimulai sekitar pukul 10.00 Wita dan berakhir pada pukul 12.30 Wita. Dalam orasinya, masyarakat adat Dayak Meratus menuntut pemerintah daerah setempat membuat Peraturan Daerah (Perda) khusus yang mengakui Kaharingan sebagai agama yang mereka anut.

"Kami menuntut agar pemerintah daerah mencantumkan agama Kaharingan sebagai identitas pada Kartu Tanda Penduduk (KTP) bagi para penganutnya," ujar koordinator aksi, Hadi Irawan alias Kambar dalam orasinya.Selain pada KTP, masyarakat adat Dayak Meratus juga menuntut pemerintah daerah setempat tidak menjadikan agama Kaharingan sebagai alasan untuk mempersulit mereka dalam pengurusan surat-surat administrasi pemerintahan.

"Mayoritas masyarakat adat Dayak Meratus yang beragama Kaharingan tidak bisa mendapatkan akibat nikah
alasan agama tersebut tidak diakui oleh pemerintah dan pada kolom agama di KTP tanpa keterangan," ujarnya.Masyarakat adat Dayak Meratus yang melakukan aksi demo saat itu memperlihatkan KTP yang pada kolom agama dikosongkan atau tanpa keterangan padahal mereka menganut agama kepercayaan Kaharingan.Ia menambahkan, kondisi tidak diakuinya Kaharingan sebagai agama yang dianut masyarakat adat Dayak Meratus membuat mereka merasa tertekan dan terintimidasi dalam menjalankan kepercayaan tersebut.

"Kami menuntut agar pemerintah daerah memberikan kebebasan ummat Kaharingan dalam menjalankan dan melaksanakan ritual-ritual keagamaan sesuai dengan kepercayaan yang di anut," tambahnya.Sebelum memulai aksi unjuk rasa, para pendemo melaksanakan ritual adat dengan menyembelih seekor ayam hitam sebagai persembahan kepada para leluruh dan para Dewa agar aksi berlangsung damai serta tidak mendapat gangguan dari roh-roh jahat.Aksi unjuk rasa tersebut juga di ikuti oleh utusan dan perwakilan masyarakat adat Dayak Meratus dari daerah lain di Kalsel serta perwakilan dari AMAN Pusat.

DAYAK PUNAN KAKI MERAH / OT SIAU

Di hulu Barito ada tiga desa yang dianggap sebagai perkampungan orang Dayak Punan, yaitu Tumbang Karamu, Tumbang Tunjang, dan Tumbang Topus. Penduduk ketiga desa ini menyatakan bahwa mereka adalah keturunan orang Punan. Punan adalah orang gaib, manusia perkasa di hutan rimba. Mereka bisa menghilangkan diri hanya dengan berlindung di balik sehelai daun. Jejaknya sulit diikuti. Mereka berjalan miring dan sangat cepat. Tubuh mereka ringan karena tidak makan garam.
Namun, kalau ditanya pada mereka tentang Ot Siau atau Punan Berkaki Merah, mereka sendiri mengatakan tidak pernah melihat maupun bertemu. Namun mereka yakin bahwa Punan Berkaki Merah memang ada, dengan ciri unik, yaitu tangan dan kaki berwarna merah seperti kaki burung Siau.
Penduduk tiga desa itu membuat dua kategori Punan. Pertama, ”Punan Pemerintah”, yaitu orang-orang Punan yang bersedia tinggal-menetap di kampung. Kedua, Punan Siau yang tinggal di goa dan mengembara di rimba belantara. Orang-orang Karamu, Tunjang, dan Topus mengaku diri sebagai ”Punan Menetap”, serta bersaudara dengan Punan Siau yang dipercayai tinggal di hulu Sungai Borak.
Punan yang ”asli”, menurut orang-orang ini, adalah mereka yang tinggal di rimba belantara dan dalam goa-goa yang gelap. Kaki dan tangan mereka diwarnai merah dengan daun saronang atau jarenang. Seluruh tubuh mereka dilapis dengan sejenis jamur yang mengandung fosfor sehingga tampak menyala di kegelapan.
Dalam hal berburu, orang Punan Siau pantang membunuh binatang yang lengah. Jika bertemu dengan rusa yang sibuk memakan dedaunan, ia bertepuk tangan keras-keras untuk memberitahukan kehadirannya.
Ketika rusa itu terkejut dan lari, barulah ia memburunya. Mereka itulah pemburu sejati bersenjatakan sumpit, serta pantang menaklukan buruan dengan cara  mengintai diam-diam.
Sekalipun bisa bertutur banyak, tidak ada seorang pun dari penduduk tiga kampung itu pernah bertemu langsung dengan Punan Siau. Beberapa orangtua lainnya hanya mengatakan pernah melihat jejak kaki, tetapi tidak pernah melihat orangnya. Menurut mereka, hal itu terjadi karena orang Punan Siau memiliki kata lamunan, yaitu mantra sakti untuk menghilangkan diri di balik sehelai daun.
Punan adalah kumpulan cerita menakjubkan. Dalam khazanah lokal Kalimantan, Punan selalu digambarkan sebagai manusia perkasa dan ahli berburu. Mereka dilihat sebagai orang yang berkekuatan supranatural tinggi. Mereka dapat menghilang dan mempunyai penciuman yang tajam.Mereka juga dilihat sebagai manusia istimewa penghuni hutan. Orang Punan juga memiliki pengetahuan akan obat-obat manjur, dari akar dan daun-daun kayu hutan. Konon, jika para perempuan Punan melahirkan, mereka akan sembuh dalam satu hari.
Kuburan Punan
Di Desa Tumbang Topus sudah tidak ada lagi yang murni Punan. Yang ada hanyalah campuran antara Punan dan orang Siang-Murung, Bahau, Benuaq, dan Ot Danum atau Kahayan. Toras, Potogor, dan Batang Pantar yang jumlahnya ada beberapa di kampung itu menunjukkan bahwa dalam ritual kematian mereka cenderung sebagai orang Ot Danum atau Siang Murung.
Mereka mengidentifikasi diri sebagai keturunan Punan pada seonggok batu besar yang oleh orang setempat disebut dengan Batu Awu-BaLang. Pada ceruk dinding salah satu bukit batu itu tampak tergolek dua tengkorak dan tulang-belulang manusia.
Menurut mereka, tengkorak dan tulang-belulang itu adalah milik dua tokoh Punan yang bernama Awu dan BaLang. Menjelang wafat, mereka mengamanatkan agar tulang-belulangnya jangan dikubur dalam tanah, tetapi diletakkan di ceruk batu, seperti layaknya orang Punan yang berdiam di goa batu.
Bagi orang Tumbang Topus, Batu Awu-BaLang bukanlah sekadar kuburan, tetapi merupakan monumen asal-usul diri karena di sana terdapat petunjuk bahwa leluhur mereka memanglah orang Punan.
Pengetahuan tentang Punan bukan hanya monopoli pakar antropologi. Orang Dayak pun sangat aktif dalam membangun identitas dirinya. Sebagai internal agen, mereka aktif mengonstruksi diri. Di Tumbang Karamu, Tumbang Tujang, dan Tumbang Topus, dengan tegas mereka mengatakan ”Kami bukan Punan Habongkot, bukan Punan Kareho, dan juga bukan Punan Siau. Kami adalah Punan Murung.”
Hampir seabad yang lalu, Carl Lumholtz, seorang penjelajah asal Norwegia, telah melakukan ekspedisi Barito-Muller-Mahakam (1915-1916). Di hulu Sungai Busang ia bertemu dengan Punan Panyawung.
Namun kini, di awal abad ke-21, kalolah kita berkunjung ke hulu Sungai Murung, kita akan bertemu dengan Punan baru, yaitu Punan Murung, Punan yg sudah nggak asli lagi. Jadi, Punan itu ada dan tiada.(

Sekitar 10 bulan yang lalu,  BRINCC Expedition. berkunjung ke pedalaman Kalimantan, daerah Kalimantan Tengah tepatnya di desa Tumbang Tujang, sekitar hampir sepuluh jam perjalanan dari Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya.Perjalanan sangat jauh dan melelahkan melewati belantara dengan jalan setara offroad.Waktu itu saya berkunjung dalam rangka mengikuti kegiatan dari BRINCC Expedition.

Selama beberapa hari mereka tinggal di desa, kemudian masuk ke kawasan hutan selama sebulan berikutnya. Selama berada di dalam hutan, tim kami ditemani oleh salah seorang putra dayak (Dayak Bakumpai) bernama Kursani (bagi yang pernah menjadi bagian dari Proyek Barito Hulu mungkin mengenal beliau), dan sempat saling bercerita tentang pengalaman masing-masing...
 
 
Ada satu cerita menarik yang sangat membuat saya penasaran yaitu cerita tentang adanya suku Dayak Berkaki Merah yang tinggal di dalam rimba di hulu sungai Barito. Saat itu saya tidak ingat nama suku dayak tersebut (yang ternyata adalah Dayak Punan). Wah....tentu saja saya sangat antusias mendengarnya, ini sama saja saya menonton Discovery Chanel tentang Suku Misterius, atau cerita manusia atau makhluk (bukan makhluk gaib) yang misterius laiinya seperti Orang Pendek dari sumatera, Hobbit Flores, atau Big Foot.


Ilustrasi

Dari cerita yang saya dengar, dahulu di rimba Barito Hulu terdapat sekelompok manusia yang masih tinggal di rimba (mungkin mirip suku anak dalam di sumatera). Suku tersebut mempunyai ciri khas yaitu mempunyai kaki berwarna merah. Tidak diketahui sebab pasti mengapa kaki mereka berwarna merah, yang jelas mereka tidak berbeda dengan manusia pada umumnya, hanya kaki saja yang berwarna merah.

Mereka mempunyai bahasa yang khas yang bahkan tidak dimengerti oleh para warga yang tinggal di desa terpencil seperti Tumbang Tujang, Borah, Oot Murung maupun Kelasin. Namun, konon ada beberapa orang yang sempat mempelajari bahasa mereka. Namun hingga saat ini masih tidak jelas siapa dan dimana.



Punan yang ”asli”, menurut orang-orang ini, adalah mereka yang tinggal di rimba belantara dan dalam goa-goa yang gelap. Kaki dan tangan mereka diwarnai merah dengan daun saronang atau jarenang. Seluruh tubuh mereka dilapis dengan sejenis jamur yang mengandung fosfor sehingga tampak menyala di kegelapan. 
Dalam hal berburu, orang Punan Siau pantang membunuh binatang yang lengah. Jika bertemu dengan rusa yang sibuk memakan dedaunan, ia bertepuk tangan keras-keras untuk memberitahukan kehadirannya
Ketika rusa itu terkejut dan lari, barulah ia memburunya. Mereka itulah pemburu sejati bersenjatakan sumpit, serta pantang menaklukan buruan dengan cara mengintai diam-diam.
Sekalipun bisa bertutur banyak, tidak ada seorang pun dari penduduk tiga kampung itu pernah bertemu langsung dengan Punan Siau. Beberapa orangtua lainnya hanya mengatakan pernah melihat jejak kaki, tetapi tidak pernah melihat orangnya. Menurut mereka, hal itu terjadi karena orang Punan Siau memiliki kata lamunan, yaitu mantra sakti untuk menghilangkan diri di balik sehelai daun.
Punan adalah kumpulan cerita menakjubkan. Dalam khazanah lokal Kalimantan, Punan selalu digambarkan sebagai manusia perkasa dan ahli berburu. Mereka dilihat sebagai orang yang berkekuatan supranatural tinggi. Mereka dapat menghilang dan mempunyai penciuman yang tajam.Mereka juga dilihat sebagai manusia istimewa penghuni hutan. Orang Punan juga memiliki pengetahuan akan obat-obat manjur, dari akar dan daun-daun kayu hutan. Konon, jika para perempuan Punan melahirkan, mereka akan sembuh dalam satu hari.

Namun sayangnya, kini suku ini sudah tidak lagi bisa di temukan. Entah apa sebabnya, tidak ada riwayat apakah mereka berakulturasi dengan penduduk di desa, menghilang lebih jauh ke dalam hutan, atau karena hal lain. Yang jelas, keberadaan suku ini memang sepertinya hanya akan menjadi misteri karena memang tidak ada bukti foto atau apapun. Namun banyak yang meyakini bahwa keberadaan mereka masih eksis hingga saat ini. Namun ada juga yang berpendapat bahwa keberadaan mereka hanya mitos.

Semoga suatu saat fakta mengenai salah satu kekayaan budaya di Indonesia ini dapat terungkap.
Semoga. 
 
sumber :  http://www.vivaborneo.com
               http://ardisaverhino43.blogspot.com

UPACARA ADAT NAIK DANGO SUKU DAYAK KENDAYANT

Upacara adat Naik Dango adalah sebuah upacara untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Nek Jubata (sang pencipta) atas hasil panen padi yang melimpah. Upacara ini sama dan semakna dengan Upacara Gawai Dayak dalam Masyarakat Dayak Iban, ataupun Kaamatan dalam Masyarakat Dayak Kadazan Dusun di Sabah Selain untuk bersyukur, masyarakat Dayak di Kalimantan Barat melakukan upacara Naik Dango ini juga untuk memohon kepada Sang Pencipta agar hasil panen tahun depan bisa lebih baik, serta masyarakat dihindarkan dari bencana dan malapetaka.
Tahap pelaksanaan upacara Naik Dango yaitu sebagai berikut :
1. Sebelum hari pelaksanaan
Sebelum hari pelaksanaan, terlebih dahulu dilakukan pelantunan mantra (nyangahathn) yang disebut Matik. Hal ini bertujuan untuk memberitahukan dan memohon restu pada Jubata.
2. Saat hari pelaksanaan
Pada hari pelaksanaan dilakukan 3 kali nyangahathn :
• pertama di Sami, bertujuan untuk memanggil jiwa atau semangat padi yang belum datang agar datang kembali ke rumah adat.
• kedua di Baluh/Langko, bertujuan untuk mengumpulkan semangat padi di tempatnya yaitu di lumbung padi.
• ketiga di Pandarengan, tujuannya yaitu berdoa untuk memberkati beras agar dapat bertahan dan tidak cepat habis.
Naik Dango merupakan satu-satunya peristiwa budaya Dayak Kendayan yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Dalam Upacara Adat Naik Dango, selain acara inti yakni “nyangahathn”.
Upacara Adat Naik Dango intinya hanya berlangsung satu hari saja tetapi karena juga menampilkan berbagai bentuk budaya tradisional di antaranya berbagai upacara adat, permainan tradisional dan berbagai bentuk kerajinan tangan yang juga bernuansa tradisional, sehingga acara ini berlangsung selama tujuh hari. Penyajian berbagai unsur tradisional, selama Upacara Adat Naik Dango ini, menjadikannya sebagai even yang eksotis ditengah-tengah kesibukan masyarakat Dayak.
 
Upacara Adat Naik Dango merupakan perkembangan lebih lanjut dari acara pergelaran kesenian Dayak yang diselenggarakan oleh Sekretariat Bersama Kesenian Dayak (SEKBERKESDA) pada tahun 1986.3 perkembangan tersebut kuat dipengaruhi oleh semangat ucapan syukur kepada Jubata yang dilaksanakan Masyarakat Dayak Kendayan di Menyuke setiap tahun setelah masa panen padi usai.
Dalam bentuknya yang tradisional, pelaksanaan Upacara Adat pasca panen ini dibatasi di wilayah kampung atau ketemanggungan. Inti dari upacara ini adalah nyangahathn yaitu pelantunan doa atau mantra kepada Jubata, lalu mereka saling mengunjungi rumah tetangga dan kerabatnya dengan suguhan utamanya seperti: poe atau salikat (lemang atau pulut dari beras ketan yang dimasak di dalam bambu), tumpi cucur), bontonkng (nasi yang dibungkus dengan daun hutan seukuran kue), jenis makanan tradisional yang terbuat dari bahan hasil panen tahunan dan bahan makanan tambahan lainnya.
 
Asal Mula Naik Dango
Naik Dango didasari mitos asal mula padi menjadi popular di kalangan orang Dayak Kalimantan Barat, yakni cerita “Ne Baruankng Kulup” yaitu Kakek Baruangkng Yang Kulup karena tidak sunat. Cerita itu dimulai dari cerita asal mula padi berasal dari setangkai padi milik Jubata di Gunung Bawang yang dicuri seekor burung pipit dan padi itu jatuh ke tangan Ne Jaek (Nenek Jaek) yang sedang mengayau. Kepulangannya yang hanya membawa setangkai buah rumput (padi) milik Jubata, dan bukan kepala yang dia bawa menyebabkan ia diejek. Dan keinginannya untuk membudidayakan padi yang setangkai itu menyebabkan pertentangan di antara mereka sehingga ia diusir. Dalam pengembaraannya ia bertemu dengan Jubata. Hasil perkawinannya dengan Jubata adalah Ne Baruankng Kulup. Ne Baruankng Kulup inilah yang akhirnya membawa padi kepada “talino” (manusia), lantaran dia senang turun ke dunia manusia untuk bermain “Gasing”. Perbuatannya ini juga menyebabkan ia diusir dari Gunung Bawang dan akhirnya kawin dengan manusia. Ne Baruankng Kulup lah yang memperkenalkan padi atau beras untuk menjadi makanan sumber kehidupan manusia, sebagai penganti “kulat” (jamur, makanan manusia sebelum mengenal padi), bagi manusia. Namun untuk memperoleh padi terjadi tragedi pengusiran di lingkungan
manusia dan jubata yang menunjukan kebaikan hati Jubata bagimanusia.

Makna Upacara Adat Naik Dango bagi masyarakat Suku Dayak Kendayan antara lain , yaitu pertama: sebagai rasa ungkapan syukur atas karunia Jubata kepada manusia karena telah memberikan padi sebagai makanan manusia, kedua: sebagai permohonan doa restu kepada Jubata untuk menggunakan padi yang telah disimpan di dango padi, agar padi yang digunakan benar-benar menjadi berkat bagi manusia dan tidak cepat habis, ketiga: sebagai pertanda penutupan tahun berladang, dan keempat: sebagai sarana untuk bersilahturahmi untuk mempererat hubungan persaudaraan atau solidaritas.
Dalam kemasan modern, upacara Adat naik Dango ini dimeriahi oleh berbagai bentuk acara adat, kesenian tradisional, dan pameran berbagai bentuk kerajinan tradisional. Hal ini menyebabkan Naik Dango lebih menonjol sebagai pesta dari pada upacara ritual. Namun dilihat dari tradisi akarnya, ia tetap sebuah upacara adat.