01

Senin, 01 Juli 2013

ASAL MUASAL SUKU DAYAK


Berdasarkan hasil penelitian antroplogi, suku Dayak yang mendiami pulau Kalimantan (Borneo) bukanlah penduduk asli. Penduduk asli pulau Borneo yang pertama dengan ciri-ciri fisik rambut hitam keriting, kulit hitam, hidung pesek dan tinggi badan rata-rata 120-130 cm. Mereka digolongkan ke dalam suku bangsa negrito sebagaimana yang masih terdapat sisa-sisanya dalam kelompok kecil di malaysia bagian utara.

Di pulau Kalimantan kelompok suku bangsa negrito ini diduga telah musnah setelah datangnya suku bangsa baru yang ber-migrasi dari benua asia sebelah timur yaitu dari Cina. Menurut ahli etnologi, di asia pada awal-awal abad masehi pernah dua kai terjadi perpindahan bangsa-bangsa yang terjadi pada abad ke II dan yang ke dua terjadi pada abad ke IV. Suku bangsa yang datang dan akhirnya mendiami pulau Kalimantan (Borneo) sebagian besar datang pada perpindahan bangsa-bangsa yang kedua yaitu pada abad ke-IV. 

Terjadinya perpindahan bangsa-bangsa ini dilakukan untuk menghindari kekejaman suku bangsa Tar-tar dari Utara yang terjadi sejak zamannya Jengis Khan. Kelompok bangsa yang berpindah itulah yang menjadi cikal bakal terbentuknya bangsa baru seperti Jepang, Taiwan, Philipina dan suku bangsa di Indonesia antara lain suku bangsa di Manado-Gorontalo-Toraja di Sulawesi ; suku-suku di Riau kepulauan, Suku Batak-Nias di Sumatera; serta suku Dayak di Kalimantan.

Sebagaimna dikemukakan sebelumnya nenek moyang suku Dayak berasal dari wilayah pegunungan Yunan bagian selatan berbatasan dengan Vietnam sekarang. Kelompok migran yang masuk ke wilayah Kalimantan Tengah sekarang dan menjadi nenek moyang bagi sebagian besar orang/suku Dayak di Kalimantan Tengah merupakan bagian dari perpindahan bangsa-bangsa ke II pada abad ke IV. Diduga mereka masuk ke Kalimantan Tengah melalui sedikitnya 3 (tiga) koridor yaitu :
1. Koridor I dari Kalimantan Barat menyusuri sungai Kapuas sehingga akhirnya menyeberang/melintas pegunungan Schwaner.
2. Koridor II dari Kalimantan Timur melalui Kabupaten Kutai Barat sekarang
3. Koridor III dari Kalimantan Timur melalui Kabupaten Paser sekarang 

Berdasarkan legenda dan cerita para pendahulu, nenek moyang suku Dayak yang mendiami Kalimantan Tengah sama sekali tidak ada kelompok yang masuk dari muara-muara sungai di sebelah selatan wilayah Kalimantan Tengah yaitu dari arah laut Jawa. Seluruhnya masuk ke wilayah Kalimantan Tengah sekarang melalui bagian utara dan timur.

Dalam puisi TETEK TATUM di sebutkan bahwa nenek moyang orang Dayak berasal dari Kerajaan Langit, diturunkan dengan ”Palangka Bulau” di (1) Tantan Puruk Pamantuan (2) Tantan Liang Mangan Puruk Kaminting dan (3) Puruk Kambang Tanah Siang. Perlu diketahui juga bahwa yang dimaksud ”Kerajaan Langit” dimaksudkan menunjuk kepada kerajaan-kerajaan di Cina pada waktu itu.

Menurut legenda, nenek moyang orang Dayak Ngaju berasal dari suatu kerajaan yang terletak dilembah pegunungan Yunan Selatan di Cina Barat Laut. Raja tersebut bergelar THA WONG yang berarti raja besar. Hal ini disebut-sebut dalam puisi TETEK TATUM dengan sedikit perubahan dari THA WONG menjadi TAHAWONG. Oleh karena itu tidak mengherankan jika dikalangan suku Dayak ada beberapa keluarga dalam memberikan nama bagi anak laki-laki yang lahir dikeluarganya dengan antara lain ; Tahawong, Sahawong, Sawong, Tewong atau Siwong.

Salah satu kelompok migran dari THA WONG tersebur masuk ke Kalimantan Tengah sekarang di duga melalui Kalimantan Barat, dengan menyusuri sungai Kapuas. Dalam mencari tempat pemukiman baru yang aman akhirnya kelompok tersebut menyebarangi sebuah pegunungan (Schwaner). Pemukiman pertama di duga di bangun di hulu anak sungai Katingan antara lain sungai Samba dan sungai Baraoi. Daerah tersebut biasa di kenal dengan sebutan DAHTAH HOTAP. Hingga saat ini di tempat itu masih terdapat puing-puing betang yang sangat besar. Betang tersebut pada masanya dipastikan sangat kokoh. Tiang-tiang betang dibuat dari kayu ulin yang berdiameter anatar 60-70 cm. Dari betang inilah diduga penyebaran kelompok–kelompok kecil kesebagian besar wilayah Kalimantan Tengah. 

Salah satu kelompok kecil yang di pimpin ”Ongko Kalangkang” pindah ke arah timur dan akhirnya menetap di hulu sungai Kahayan, yaitu di desa Tumbang Mahuroi sekarang. Warga suku Dayak Ngaju mengakui bahwa ”Ongko Kalangkang” adalah nenek moyang mereka dan merupakan cikal bakal adanya suku Dayak Ngaju. Dalam bahasa Ngaju, kata ongko berarti orang tua, persis sama seperti bahasa Cina. Kata Kalangkang merupakan pertautan 3 (tiga) kata yaitu; Ka (atau kho)-La dan Kang.

Migrasi Ongko Kalangkang ke hulu sungai Kahayan (Tumbang Mahuroi) disertai 7 (tujuh) keluarga dan anak menantunya. Atas kesepakatn bersama, maka ke tujuh keluarga anak-menantunya tersebut menyebar mencari tempat pemukiman baru dengan cara menyisir sungai Kahayan ke arah hilir (selatan). Dengan menggunakan rakit-rakit yang dibuat dari bambu dan kayu, rombongan ke-7 keluarga tersebut melakukan perjalanan untuk mencari tempat-tempat pemukiman baru yang cocok.

Dengan demikian di sepanjang sungai Kahayan akhirnya terbangun 8 (delapan) perkampungan asal yang merupakan kampung generasi pertama, yaitu :
1. Tumbang Mahuroi (Ongko kalangkang)
2. Tumbang Pajangei (anak laki-laki)
3. Tampang (anak laki-laki)
4. Sepang Simin (anak laki-laki)
5. Bawan (anak perempuan)
6. Pahawan (Anak perempuan)
7. Bukit Rawi (Anak perempuan)
8. Pangkoh (anak Perempuan)

Dalam buku ”MANESER PANATAU TATU HIANG” atau Menyelami Kekayaan Leluhur yang di susun oleh Dra. Nila Riwut, 2003 halaman 59 tentang ”Asal-usul Suku Bangsa Dayak” dikemukakan adanya pendapat orang lain yang menyebutkan bahwa suku Dayak berasal dari proto-melayu/melayu tua (Maneser Panatau Tatu Hiang, tahun 2003, halaman 59)

Pendapat tersebut diatas sangat spekulatif dan kurang beralasan. Pegunungan Yunan letaknya di wilayah Cina barat laut. Ras Melayu jelas tidak berasal dari Benua Asia Timur tersebut. Nenek moyang orang Dayak Kalimantan Tengah jelas menyebar dari arah utara yaitu dari daerah hulu sungai. Penyebaran terbalik bukan dari muara sungai sebelah selatan Kalimantan Tengah melainkan menyebar dari arah utara dan dari arah timur, artinya justru menyebar dari arah hulu sungai.

Dengan demikian asal-usul orang Dayak dapat disimpulkan bukan dari ras melayu melainkan lebih tepat dari ras Neo-mongolik. Berpindahnya nenek moyang suku Dayak dari daerah asal (pegunungan Yunan) dapat dipastikan telah mempunyai kebudayaan yang tinggi. Hal tersebut dibuktikan bahwa mereka telah memiliki kemampuan navigasi yang memungkinkan mereka berlayar menyeberangi laut Cina Selatan. Ditempat yang baru mereka telah mampu mengenal batu-batuan yang mengandung bijih besi, memproses besi besi menggunakan tanur yang dibuat sendiri. Hasil besi yang diproses itu disebut dengan ”Sanaman Mantikei” atau besi Mantikei yang terkenal sangat kuat. 

Pada zaman sebelum kemerdekaan sampai beberapa tahun awal kemerdekaan, di sekolah-sekolah khusus mata pelajaran ilmu bumi menggunakan buku atlas yang diadakan pemerintah. Khusus pada peta pulau Kalimantan untuk menunjukan nama-sama sungai tertulis antara lain : Dayak Kapuas (besar), Dayak Ketapang, Dayak Lamandau, Dayak Arut, Dayak Kapuas , dll

Dengan demikian yang dimaksud dengan Dayak adalah sungai. Kata Dayak yang artinya sungai tersebut terdapat pada satu anak suku Benuaq di Kalimantan Timur serta bahasa lokal di Kalimantan Barat dan Serawak.

Pada awal abad ke-XIX seorang ilmuwan barat sekaligus missionaris telah melakukan perjalanan panjang selama bertahun-tahun untuk suatu penelitian tentang suku bangsa dan budaya penduduk yang mendiami pulau Kalimantan. Pada saat itu sungai merupakan satu-satunya prasarana perhubungan dari satu kampung ke kampung lain. 

Di setiap aliran sungai ilmuwan tersebut menyusuri sungai dengan menggunakan perahu yang didayung oleh tenaga upahan dari penduduk setempat. Apabila sampai pada suatu kampung, ia bertanya kepada pengantarnya (guide) tentang nama kampung dan suku bangsa yang mendiami tempat itu. Namun sampai berakhirnya seluruh perjalanan penelitian tersebut, ternyata bahwa semua suku bangsa yang ia temui belum mempunyai nama. Oleh karena itulah didalam tulisan akhirnya ilmuwan tersebut menyimpulkan bahwa suku bangsa yang mendiami pulau Kalimantan diberikannya nama suku Dayak yang artinya suku bangsa yang bermukim di sepanjang tepi sungai.

Perkembangan penduduk dan perkembangaan kampung-kampung baru menjadi sangat pesat. Dari Kahayan inilah penyebaran penduduk terjadi ke arah barat (Sungai Rungan, Katingan, Mentaya, Seruyan, Arut dan Lamandau); ke arah timur dan selatan (sungai Kapuas, Kapuas Kuala, Barito Kuala, Barito Tengah dan sebagian Barito Hulu). 

Memurut Tjilik Riwut dalam bukunya ; Kalimantan Memanggil (1958), suku Dayak Ngaju merupakan suku induk dan terbagi atas 4 (empat) suku besar yaitu :
1. Suku Ngaju dengan 53 anak suku
2. Suku Maanyan dengan 8 anak suku
3. Suku Lawangan dengan 21 anak suku
4. Suku Dusun dengan 24 anak suku 

Hampir seluruh wilayah propinsi Kalimantan Tengah sekarang dihuni oleh warga masyarakat yang tergabung ke dalam suku Dayak Ngaju (dan anak suku). Kecuali sedikit warga seperti sebagian hulu anak-anak sungai Katingan, hulu sungai Kapuas dan hulu sungai Barito di huni oleh suku Ot Danum, Ot Siang, Ot Punan dan Ot Kareho. Nenek moyang suku-suku Ot ini kemungkinan besar memasuki Kalimantan Tengah memalui koridor I dan koridor II dari arah Kalimantan Timur. 

Bahasa yang digunakan sebagai bahasa komunikasi antar warga dari berbagai suku, disamping menggunakan bahasa ibu adalah bahasa Ngaju. Bahasa Dayak Ngaju juga berfungsi untuk menjadi bahasa pengantar atau lingua franca pada sebagian besar suku-suku di Kalimantan Tengah. 

Hubungan Suku Bukit ”Meratus” dengan Ngaju

Penyebutan Dayak merupakan suatu label yang dipergunakan untuk menyebut ratusan suku bangsa asli yang mendiami Borneo. Memang terdapat beberapa perbedaan pendapat tentang pengertian dari istilah “dayak”. Lindbald menyatakan, bahwa kata Dayak berasal dari kata “daya” (bahasa Kenyah) yang mempunyai pengertian “hulu sungai” atau “pedalaman”. Sementera itu, menurut Riwut, istilah “dayak” dapat dirunut dari bahasa orang Dayak Sahawung, “dayak” atau “daya” berarti “kekuatan”. Namun, pengertian ini menurut Riwut, juga sering disalahartikan oleh orang-orang Melayu atau orang pendatang di Kalimantan, bahwa “dayak” berarti “orang gunung”. Mengapa mereka menyebut sebagai Orang Gunung, karena orang-orang Melayu sering mengucapkan kata “dayak” untuk menyebut suku-suku asli di Kalimantan yang tinggal di gunung (bukit) atau di pedalaman. Demikian juga yang terjadi di daerah Hulu Sungai Selatan (Kandangan), orang-orang Banjar seringkali menyebut “orang dayak” untuk menunjuk pada penduduk asli yang tinggal di perbukitan sepanjang pegunungan Meratus. 

Menurut Tjilik Riwut, Suku Dayak Bukit merupakan suku kekeluargaan yang termasuk golongan suku (kecil) Dayak Ngaju. Suku Dayak Ngaju merupakan salah satu dari 4 suku kecil bagian dari suku besar (rumpun) yang juga dinamakan Dayak Ngaju.

Mungkin adapula yang menamakan rumpun suku ini dengan nama rumpun Dayak Ot Danum. Penamaan ini juga dapat dipakai, sebab menurut Tjilik Riwut, suku Dayak Ngaju merupakan keturunan dari Dayak Ot Danum yang tinggal atau berasal dari hulu sungai-sungai yang terdapat di kawasan ini, tetapi sudah mengalami perubahan bahasa. Jadi suku Ot Danum merupakan induk suku, tetapi suku Dayak Ngaju merupakan suku yang dominan di kawasan ini.

Silsilah suku Bukit;
Suku Dayak (suku asal), terbagi 5 suku besar / rumpun:
* Dayak Laut (Iban)
* Dayak Darat
* Dayak Apo Kayan / Kenyah-Bahau
* Dayak Murut
* Dayak Ngaju / Ot Danum, terbagi 4 suku kecil:
o Dayak Maanyan
o Dayak Lawangan
o Dayak Dusun
o Dayak Ngaju, terbagi beberapa suku kekeluargaan :
+ Dayak Bukit
• dan lain-lain

Menurut Alfani Daud, suku Dayak Bukit sebagaimana suku Banjar, nenek moyangnya juga berasal dari Sumatera dan sekitarnya ( daerah Melayu). Karena itu ada pulanya yang menamakan sebagai "Melayu Bukit" (Bukit Malay).

Suku ini dapat digolongkan sebagai suku Dayak, karena mereka teguh memegang kepercayaan atau religi suku mereka. Akan tetapi religi suku ini, agak berbeda dengan suku Dayak di Kalimantan Tengah (Suku Dayak Ngaju), yang banyak menekankan ritual upacara kematian. Suku Dayak Bukit lebih menekankan upacara dalam kehidupan, seperti upacara pada proses penanaman padi atau panen. Suku Dayak Bukit juga tidak mengenal tradisi Ngayau yang ada jaman dahulu pada kebanyakan suku Dayak.

Upacara ritual suku Dayak Bukit, misalnya "Aruh Bawanang". Tarian ritual misalnya tari Babangsai untuk wanita dan tari Kanjar untuk pria. Suku Bukit tinggal dalam dalam rumah besar yang dinamakan balai.

Balai merupakan rumah adat untuk melaksanakan ritual pada religi suku mereka. Bentuk balai, "memusat" karena di tengah-tengah merupakan tempat altar atau panggung tempat meletakkan sesajen. Tiap balai dihuni oleh beberapa kepala keluarga, dengan posisi hunian mengelilingi altar upacara. Tiap keluarga memiliki dapur sendiri yang dinamakan umbun. Jadi bentuk balai ini, berbeda dengan rumah adat suku Dayak umumnya yang berbentuk panjang (Rumah Panjang).

Bahasa Dayak Bukit, menurut penelitian banyak kemiripan dengan dialek Bahasa Banjar Hulu. Ada pula yang menamakan bahasa Bukit sebagai "bahasa Banjar archais". Bahasa Bukit termasuk Bahasa Melayu Lokal yang disebut Bahasa Melayu Bukit.Berbeda dengan Riwut, penelitian Noerid Haloei Radam membuktikan bahwa orang Dayak Bukit tidaklah serumpun dengan orang Dayak Ngaju, namun mereka lebih dekat dengan atau serumpun dengan orang Banjar
. Kedekatan ini dibuktikan dengan adanya kesamaan bahasa dan adanya kesamaan nenek moyang dan sistem religi yang dipercayainya. 

Berdasarkan pengamatan yang pernah dilakukan oleh Moh. Soehadha pada tahun 2003 dan tahun 2004, ia berpendapatan bahwa orang Dayak Meratus (Bukit) memiliki rumpun yang sama dengan orang Banjar Hulu. Pendapat tentang kesamaan rumpun suku antara Dayak Meratus dengan orang Banjar Hulu dapat dibuktikan dari cerita-cerita yang dituturkan oleh para tokoh adat Dayak Meratus yang berisi tentang kesadaran dan pengakuan bahwa nenek moyang orang Dayak Meratus umumnya adalah orang Banjar Hulu yang mendiami wilayah Kayu Tangi (Martapura).

Tentang Budaya Rumah Betang

Sejak lebih dari 1500 tahun yang lalu kehidupan nenek moyang masyarakat Dayak yang datang ke pulau Kalimantan merupakan masyarakat yang telah memiliki budaya yang tinggi. Namum dalam perkembangannya ditanah yang baru (Kalimantan tengah) kebudayaan mereka tidak berkembang bahkan cenderung mengalami kemunduran.

Dalam kurun waktu sebelum Perdamaian Tumbang Anoi pada tahun 1894 masyarakat Dayak bermukim terpisah-pisah di perkampungan yang tersebar di sepanjang tepi sungai. Sesuai dengn kebutuhannya untuk tempat tinggal dibangun rumah panjang yang disebut ”Betang”dan menampung seluruh keluarga yang menjadi warga ”Betang”tersebut. Apabila perkampungan dirasakan sebuah Betang sudah tidak mencukupi,maka atas mufakat bersama dibangun betang baru. Betang sebagai tempat hunian bersama di wilayah pedalaman Kalimantan Tengah dan masih bertahan sampai menjelang abad ke-XIX.

Betang juga bisa diterjemahkan dengan Rumah besar dan Panjang. Dan dalam bahasa ngaju adalah huma hai yang artinya rumah besar. Ukuran betang bervariasi sesuai dengan jumlah kepala keluarga yang mendiaminya. Dalam sejarah perkembangan masyarakat Dayak ada betang yang sangat besar dan panjang yang dihuni oleh warga kurang lebih 100 kepala keluarga. Ada juga betang ukurannya relatif kecil dan dapat menampung 10-20 kepala keluarga. 

Pada zaman dulu,pada suatu lokasi perkampungan dibangun hanya 1 (satu) buah rumah betang sebagai tempat hunian seluruh warga. Namun dalam perkembangannya mulai pertengahan abad ke XIX mulai muncul perkampungan yang terdiri dari 2-3 betang dengan ukuran kecil. Kontruksi rumah betang dibangun dengan menggunakan tiang-tiang penopang yang sangat kokoh dari kayu ulin. Bahkan pada puing-puing betang yang ada di Datah otap di bagian hulu sungai samba-baraoi tiang-tiang ulin tersebut berukuran 60-70 cm. Bangunan betang bisa mencapai ketinggian 5-6 meter dari permukaan tanah dengan tangga lokal (hejan)2-3 tingkat. Tingginay bangunan tersebut dimaksudkan untuk mengantisipasi serangan binatang buas dan musuh sehingga senjata tombak musuh tidak akan mencapai lantai betang. 

Oleh karena itu betang dalam istilah Dayak ngaju di sebut ”Betang panjang palataran lumbah,Huma hai bendera gantung”. Secara keseluruhan rumah betang meliputi ; betang panjang,Balai basara,Balai Garantung,Lepau (Lumbung padi),Sandung,Patahu,Batang talian (termasuk fasilitas MCK dan tambatan perahu). Di dalam betang ini juga dibangun ruangan khusus untuk seorang gadis dan keluarga terpandang yanmg dipingit samapi gadis tersbut menikah. Selam dalam pingitan tersebut,sang gadis di beri pelajaran kepandaian seorang putri seperti merajut,menenun,menganyam serta pelajaran tentang kepribadian,etika adat istiadat dan lain-lain. 

Dalam betang sebagai hunian baik untuk seluruh atau sebagian warga perkampungan ikut bertumbuh kembang kebudayaan,adat kebiasaan dan hukum adat masyarakat dayak. Warga betang dipimpin oleh kepala betang dibantu oleh perangkat organisasi dilingkungan betang tersebut sebagai suatu perkampungan. Berbagai hal menyangkut kepentingan bersama dibahas melaui musyawarah untuk mufakat.

Seiring dengan perkembangan zaman lebih-lebih dampak dari masuknya kebudayaan dari luar,maka betang sebagai tempat hunian bersama menjadi kurang menarik dan makin lama makin ditinggalkan. Arus kehidupan modern yang lebih bersifat individualistis serta pengaruh berkembangnya pendidikan,ilmu pengetahuan dan teknolog,secara perlahan dan pasti betang sebagai bentuk tempat hunian bersama tidak dipertahankan lagi. Betang-betang yang masih ada sampi saat inimerupakan sisa-sisa betang yang dibangun pada abad ke-XIX atau sebelumnya. Sampai saat ini saat ini di Kalimantan Tengah hanya terdapat belasan rumah betang yang tersebar di berbagai kabupaten.(lampiran gambar.....) 

Meskipun demikian dewasa ini kembali disadari bahwa kearifan dan kebijakan yang diterapkan oleh kepala betang masa lampau beserta organisasi perangkatnya ternyata memiliki nilai budaya yang luhur dan tinggi. Banyak tokoh masyarakat dan budayawan daerah berpandangan adalah menjadi kewajiban bersama untuk mengangkat dan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur dalam masyarakat betang menjadi falsafah hidup yaitu falsafah budaya betang. 

(adat istiadat Dayak Ngaju- Pemerintah Kota Palangkaraya-Pusat Budaya Betang 2003)

1 komentar: