01

Senin, 03 Juni 2013

DAYAK PUNAN KAKI MERAH / OT SIAU

Di hulu Barito ada tiga desa yang dianggap sebagai perkampungan orang Dayak Punan, yaitu Tumbang Karamu, Tumbang Tunjang, dan Tumbang Topus. Penduduk ketiga desa ini menyatakan bahwa mereka adalah keturunan orang Punan. Punan adalah orang gaib, manusia perkasa di hutan rimba. Mereka bisa menghilangkan diri hanya dengan berlindung di balik sehelai daun. Jejaknya sulit diikuti. Mereka berjalan miring dan sangat cepat. Tubuh mereka ringan karena tidak makan garam.
Namun, kalau ditanya pada mereka tentang Ot Siau atau Punan Berkaki Merah, mereka sendiri mengatakan tidak pernah melihat maupun bertemu. Namun mereka yakin bahwa Punan Berkaki Merah memang ada, dengan ciri unik, yaitu tangan dan kaki berwarna merah seperti kaki burung Siau.
Penduduk tiga desa itu membuat dua kategori Punan. Pertama, ”Punan Pemerintah”, yaitu orang-orang Punan yang bersedia tinggal-menetap di kampung. Kedua, Punan Siau yang tinggal di goa dan mengembara di rimba belantara. Orang-orang Karamu, Tunjang, dan Topus mengaku diri sebagai ”Punan Menetap”, serta bersaudara dengan Punan Siau yang dipercayai tinggal di hulu Sungai Borak.
Punan yang ”asli”, menurut orang-orang ini, adalah mereka yang tinggal di rimba belantara dan dalam goa-goa yang gelap. Kaki dan tangan mereka diwarnai merah dengan daun saronang atau jarenang. Seluruh tubuh mereka dilapis dengan sejenis jamur yang mengandung fosfor sehingga tampak menyala di kegelapan.
Dalam hal berburu, orang Punan Siau pantang membunuh binatang yang lengah. Jika bertemu dengan rusa yang sibuk memakan dedaunan, ia bertepuk tangan keras-keras untuk memberitahukan kehadirannya.
Ketika rusa itu terkejut dan lari, barulah ia memburunya. Mereka itulah pemburu sejati bersenjatakan sumpit, serta pantang menaklukan buruan dengan cara  mengintai diam-diam.
Sekalipun bisa bertutur banyak, tidak ada seorang pun dari penduduk tiga kampung itu pernah bertemu langsung dengan Punan Siau. Beberapa orangtua lainnya hanya mengatakan pernah melihat jejak kaki, tetapi tidak pernah melihat orangnya. Menurut mereka, hal itu terjadi karena orang Punan Siau memiliki kata lamunan, yaitu mantra sakti untuk menghilangkan diri di balik sehelai daun.
Punan adalah kumpulan cerita menakjubkan. Dalam khazanah lokal Kalimantan, Punan selalu digambarkan sebagai manusia perkasa dan ahli berburu. Mereka dilihat sebagai orang yang berkekuatan supranatural tinggi. Mereka dapat menghilang dan mempunyai penciuman yang tajam.Mereka juga dilihat sebagai manusia istimewa penghuni hutan. Orang Punan juga memiliki pengetahuan akan obat-obat manjur, dari akar dan daun-daun kayu hutan. Konon, jika para perempuan Punan melahirkan, mereka akan sembuh dalam satu hari.
Kuburan Punan
Di Desa Tumbang Topus sudah tidak ada lagi yang murni Punan. Yang ada hanyalah campuran antara Punan dan orang Siang-Murung, Bahau, Benuaq, dan Ot Danum atau Kahayan. Toras, Potogor, dan Batang Pantar yang jumlahnya ada beberapa di kampung itu menunjukkan bahwa dalam ritual kematian mereka cenderung sebagai orang Ot Danum atau Siang Murung.
Mereka mengidentifikasi diri sebagai keturunan Punan pada seonggok batu besar yang oleh orang setempat disebut dengan Batu Awu-BaLang. Pada ceruk dinding salah satu bukit batu itu tampak tergolek dua tengkorak dan tulang-belulang manusia.
Menurut mereka, tengkorak dan tulang-belulang itu adalah milik dua tokoh Punan yang bernama Awu dan BaLang. Menjelang wafat, mereka mengamanatkan agar tulang-belulangnya jangan dikubur dalam tanah, tetapi diletakkan di ceruk batu, seperti layaknya orang Punan yang berdiam di goa batu.
Bagi orang Tumbang Topus, Batu Awu-BaLang bukanlah sekadar kuburan, tetapi merupakan monumen asal-usul diri karena di sana terdapat petunjuk bahwa leluhur mereka memanglah orang Punan.
Pengetahuan tentang Punan bukan hanya monopoli pakar antropologi. Orang Dayak pun sangat aktif dalam membangun identitas dirinya. Sebagai internal agen, mereka aktif mengonstruksi diri. Di Tumbang Karamu, Tumbang Tujang, dan Tumbang Topus, dengan tegas mereka mengatakan ”Kami bukan Punan Habongkot, bukan Punan Kareho, dan juga bukan Punan Siau. Kami adalah Punan Murung.”
Hampir seabad yang lalu, Carl Lumholtz, seorang penjelajah asal Norwegia, telah melakukan ekspedisi Barito-Muller-Mahakam (1915-1916). Di hulu Sungai Busang ia bertemu dengan Punan Panyawung.
Namun kini, di awal abad ke-21, kalolah kita berkunjung ke hulu Sungai Murung, kita akan bertemu dengan Punan baru, yaitu Punan Murung, Punan yg sudah nggak asli lagi. Jadi, Punan itu ada dan tiada.(

Sekitar 10 bulan yang lalu,  BRINCC Expedition. berkunjung ke pedalaman Kalimantan, daerah Kalimantan Tengah tepatnya di desa Tumbang Tujang, sekitar hampir sepuluh jam perjalanan dari Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya.Perjalanan sangat jauh dan melelahkan melewati belantara dengan jalan setara offroad.Waktu itu saya berkunjung dalam rangka mengikuti kegiatan dari BRINCC Expedition.

Selama beberapa hari mereka tinggal di desa, kemudian masuk ke kawasan hutan selama sebulan berikutnya. Selama berada di dalam hutan, tim kami ditemani oleh salah seorang putra dayak (Dayak Bakumpai) bernama Kursani (bagi yang pernah menjadi bagian dari Proyek Barito Hulu mungkin mengenal beliau), dan sempat saling bercerita tentang pengalaman masing-masing...
 
 
Ada satu cerita menarik yang sangat membuat saya penasaran yaitu cerita tentang adanya suku Dayak Berkaki Merah yang tinggal di dalam rimba di hulu sungai Barito. Saat itu saya tidak ingat nama suku dayak tersebut (yang ternyata adalah Dayak Punan). Wah....tentu saja saya sangat antusias mendengarnya, ini sama saja saya menonton Discovery Chanel tentang Suku Misterius, atau cerita manusia atau makhluk (bukan makhluk gaib) yang misterius laiinya seperti Orang Pendek dari sumatera, Hobbit Flores, atau Big Foot.


Ilustrasi

Dari cerita yang saya dengar, dahulu di rimba Barito Hulu terdapat sekelompok manusia yang masih tinggal di rimba (mungkin mirip suku anak dalam di sumatera). Suku tersebut mempunyai ciri khas yaitu mempunyai kaki berwarna merah. Tidak diketahui sebab pasti mengapa kaki mereka berwarna merah, yang jelas mereka tidak berbeda dengan manusia pada umumnya, hanya kaki saja yang berwarna merah.

Mereka mempunyai bahasa yang khas yang bahkan tidak dimengerti oleh para warga yang tinggal di desa terpencil seperti Tumbang Tujang, Borah, Oot Murung maupun Kelasin. Namun, konon ada beberapa orang yang sempat mempelajari bahasa mereka. Namun hingga saat ini masih tidak jelas siapa dan dimana.



Punan yang ”asli”, menurut orang-orang ini, adalah mereka yang tinggal di rimba belantara dan dalam goa-goa yang gelap. Kaki dan tangan mereka diwarnai merah dengan daun saronang atau jarenang. Seluruh tubuh mereka dilapis dengan sejenis jamur yang mengandung fosfor sehingga tampak menyala di kegelapan. 
Dalam hal berburu, orang Punan Siau pantang membunuh binatang yang lengah. Jika bertemu dengan rusa yang sibuk memakan dedaunan, ia bertepuk tangan keras-keras untuk memberitahukan kehadirannya
Ketika rusa itu terkejut dan lari, barulah ia memburunya. Mereka itulah pemburu sejati bersenjatakan sumpit, serta pantang menaklukan buruan dengan cara mengintai diam-diam.
Sekalipun bisa bertutur banyak, tidak ada seorang pun dari penduduk tiga kampung itu pernah bertemu langsung dengan Punan Siau. Beberapa orangtua lainnya hanya mengatakan pernah melihat jejak kaki, tetapi tidak pernah melihat orangnya. Menurut mereka, hal itu terjadi karena orang Punan Siau memiliki kata lamunan, yaitu mantra sakti untuk menghilangkan diri di balik sehelai daun.
Punan adalah kumpulan cerita menakjubkan. Dalam khazanah lokal Kalimantan, Punan selalu digambarkan sebagai manusia perkasa dan ahli berburu. Mereka dilihat sebagai orang yang berkekuatan supranatural tinggi. Mereka dapat menghilang dan mempunyai penciuman yang tajam.Mereka juga dilihat sebagai manusia istimewa penghuni hutan. Orang Punan juga memiliki pengetahuan akan obat-obat manjur, dari akar dan daun-daun kayu hutan. Konon, jika para perempuan Punan melahirkan, mereka akan sembuh dalam satu hari.

Namun sayangnya, kini suku ini sudah tidak lagi bisa di temukan. Entah apa sebabnya, tidak ada riwayat apakah mereka berakulturasi dengan penduduk di desa, menghilang lebih jauh ke dalam hutan, atau karena hal lain. Yang jelas, keberadaan suku ini memang sepertinya hanya akan menjadi misteri karena memang tidak ada bukti foto atau apapun. Namun banyak yang meyakini bahwa keberadaan mereka masih eksis hingga saat ini. Namun ada juga yang berpendapat bahwa keberadaan mereka hanya mitos.

Semoga suatu saat fakta mengenai salah satu kekayaan budaya di Indonesia ini dapat terungkap.
Semoga. 
 
sumber :  http://www.vivaborneo.com
               http://ardisaverhino43.blogspot.com

1 komentar:

  1. Gambar yang pertama bukan dayak punan tetapi kemungkinan iban kerana tradisi bertatto adalah diwarisi hanya iban sahaja pada masa dahulu

    BalasHapus