01

Minggu, 30 Juni 2013

KERAJAAN DAYAK : KERAJAAN NAN SARUNAI




Tanah di pulau Kalimantan memang merupakan tempat berbagai macam kelompok bangsa dan etnik yang datang dari berbagai asal dalam kurun waktu yang berbeda. Tulisan ini merujuk kepada salah satu bangsa penghuni pulau Kalimantan yaitu bangsa Dayak. Istilah Dayak berdasarkan catatan tertulis telah di gunakan oleh Hohendorff  dalam bukunya  “Radicale Beschrijving van Banjermassing” pada tahun 1757. Nama Dayak memang bukanlah nama endemik untuk menyebutkan bangsa tersebut. Nama tersebut dalam sejarahnya memang diberikan oleh peneliti dan penulis barat. Contohnya dalam dalam Hikayat Banjar tidak dikenal istilah dayak, yang dipakai adalah istilah orang Biaju atau negeri Biaju/Tanah Biaju yang merujuk kepada orang-orang yang tinggal di  Biaju Kecil, atau  sungai Kapuas Murung  di Kabupaten Kapuas sekarang dan  Biaju Besar atau  sungai Kahayan di wilayah Kabupaten Pulang Pisau sekarang. 

Belandalah yang kemudian  mengganti istilah Tanah Biaju menjadi afdeeling Tanah Dayak. Terlepas dari kontroversi penamaan dayak yang cenderung berkonotasi kepada orang yang hidup jauh dari laut atau orang darat, pada umumnya, sekarang ini, istilah Dayak telah diterima dan telah menjadi identitas bagi bangsa ini, sehingga istilah tanah Dayak atau Bangsa Dayak telah menjadi familiar untuk menyebut tanah air dan salah satu bangsa penghuni pulau Kalimantan, sehingga tidak penting lagi untuk diperdebatkan. Bangsa Dayak terbagi dalam enam rumpun besar, yakni: Apokayan (Keyah-Kayan-Bahau),Ot Danum-Ngaju,Iban, Murut, Klemantan dan Punan.

Dalam sejarahnya Bangsa Dayak yang terdiri dari ratusan etnis kurang lebih 405 etnis menurut J. U. Lontaan, (1975), telah memiliki tata pemerintahan dan hukum-hukum yang mengatur masyarakatnya. Ada beberapa locus kekuasaan yang tersebar di beberapa tempat seperti misalnya kerajaan Nek Riuh, Kerajaan Bangkule Rajakeng, kerajaan Bujakeng, dan Kerajaan Nan Sarunai yang berlokasi di Banua Lawas sekitar 24 km dari Kota Martapura menuju ke arah Rantau.   Kerajaan Nan Sarunai adalah  adalah kerajaan bangsa Dayak etnis Maanyan  yang diperkirakan berdiri pada tahun 1309. Penguasa pertama dari kerajaan ini adalah Japutra Layar yang memerintah 1309-1329.  Masa kerajaan Nan Sarunai diperkirakan semasa dengan Kerajaan Kuripan,  Kerajaan kuno di Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan  berdekatan dengan situs reruntuhan Candi Agung di Amuntai Tengah yang telah diteliti Kumartono dan Widianto pada tahun 1998.

Penelitian lebih lanjut kiranya dibutuhkan untuk merekonstruksi kebesaran kerajaan Nan Sarunai dan mengambil nilai-nilai luhur mengenai pandangan hidup, kepercayaan, tata cara pemerintahan dan hukum dan adat  yang berlaku pada masa itu dan telah terwariskan dalam bentuk hukum adat di masa kini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar